Malam ini akhirnya aku melihat foto pernikahan lelaki yang dulu pernah menjadi ayah dari bayi yang kukandung. Ia bersama seorang perempuan cantik berjalan dengan baju pengantin berwarna merah menyala, mungkin semerah kemarahanku dulu padanya.

Lelaki ini pergi dan tak pernah mengirimkan kabar, aku masih terbelit hutang dan kesakitan ketika ia memutuskan untuk meninggalkan jogja dengan kereta malam. entah berapa banyak air mata dan kemarahan yang kutumpahkan padanya karena sikapnya itu. entah berapa banyak makian dan umpatan yang kuteriakan setiap kali aku mengingat penderitaan yang harus kulalui sendiri. selama bertahun-tahun aku tersiksa oleh amarah yang ada di dalam diriku, amarah yang membuatku buta untuk melihat keajaiban hidup.

kota jakarta selalu membuatku tersiksa, setiap jengkalnya selalu mengingatkanku pada lelaki ini. kadang aku hanya terduduk berjam-jam di jalanan melihat orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku. setiap lelaki yang lewat di hadapanku selalu tampak seperti dia. aku bisa tiba-tiba menangis dan menjerit dalam hati, sungguh menyakitkan.

waktu terus berjalan, sudah 4 tahun semua itu berlalu. setiap detik aku berjuang mengembalikan rasa percayaku pada hidup. setiap hari aku berjuang mengatakan pada diriku bahwa keadaan akan membaik, hidup takkan menghianatiku lagi.

aku selalu mencari alasan untuk bisa memaafkan lelaki ini. bertahun-tahun aku mencoba memaafkan meskipun kadang aku kembali diliputi amarah dan kebencian. memaafkan bukan sebuah keputusan, ternyata memaafkan adalah keputusan yang harus selalu diulang dilakukan.

suatu hari, aku mendengar kabar bahwa lelaki telah menikah. aku tak pernah tahu kebenarannya, nomor telpon rumahnya bahkan sudah diganti. kupikir, keluarganya sengaja melakukannya agar aku tak mencarinya lagi. sudahlah, kataku saat itu. hidup mulai membawa kami pada takdirnya masing-masing.

malam ini, akhirnya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa pernikahan itu benar-benar terjadi. aku melihat senyum yang merekah di wajah mereka. they look perfect.

mari kita belajar memahami apa yang terjadi. apa yang sebenarnya terfikir di kepalaku saat melihat mereka? im tryin to be honest…

  • selama bertahun-tahun aku melalui masa-masa sulit, berjuang agar bisa bernafas untuk sedetik berikutnya. berjuang untuk bisa kembali percaya pada cinta, percaya bahwa masih ada laki-laki yang baik di luar sana. its not easy…dan ia tersenyum di sana, menggandeng seorang perempuan menuju pelaminan, tanpa memahami apa yang kulalui selama ini.
  • aku takkan mungkir bahwa ia adalah seorang lelaki yang kucintai, seorang lelaki yang kuinginkan menjadi pasangan hidupku, seorang lelaki yang lari dari masalah dan membiarkan melalui masa-masa sulit sendirian.
  • aku takkan mungkir bahwa hatiku sedikit sesak melihat pernikahan mereka. bagaimana bisa tuhan membiarkan semuanya terjadi? kenapa aku harus melalui rasa sakit itu sedangkan ia bisa tetap bahagia? tuhan tak adil.

semua itu nyata kurasakan. namun apakah yang nyata kurasakan itu adalah kebenaran dan sesuatu yang baik? ada beberapa hal yang harus selalu kita ingat,

  • mungkin tuhan tampak tak adil, namun kita takkan pernah tahu rahasia hidup. apakah jika aku menikah dengan lelaki ini aku akan bahagia?belum tentu. setiap manusia berhak untuk bahagia, jika ternyata ia bahagia bersama perempuan orang lain, maka ia berhak mendapatkannya. jikapun aku tak bersamanya lagi, aku akan bahagia dengan apa yang telah tuhan berikan untukku.
  • aku mungkin lelah terseok-seok, aku mungkin tak punya banyak kekuatan melalui semua rasa sakit ini. namun tak ada rasa sakit yang percuma. penderitaan takkan membuat kita mati, penderitaan hanya membuat kita semakin memahami betapa hidup adalah anugerah, penderitaan membawa kita pada ruang pengalaman hidup yang luar biasa. selalu ada kemudahan setelah kesulitan. tuhan takkan membiarkanku melewati penderitaan ini jika ia tak menyiapkan sebuah hadiah istimewa. sebuah kehidupan yang penuh keajaiban dan kasih.

aku tak sendiri, banyak di luar sana orang-orang yang kehilangan mereka yang dikasihi atau dikhianati oleh mereka yang di kasihi. luka itu menganga dan perih. hanya ada satu obat untuk luka, yaitu memaafkan.

logikaku takkan cukup untuk bisa memahami kenapa harus memaafkan orang yang telah melukai kita. hati takkan cukup membendung perih akibat luka itu. sampai suatu hari kusadari, bahwa aku perlu memaafkan untuk satu alasan : SEMBUH. hanya dengan memaafkan luka itu bisa sembuh, dan kita tak perlu memaafkan untuk orang lain, ketika kita memaafkan orang lain pada saat bersamaan kita telah mengobati luka yang ada dalam diri kita, mengasihi diri kita dan memberi kesempatan diri kita untuk kembali percaya pada kehidupan.

waktu telah berlalu, jika aku mengingat semua ini, aku tak menyesali kesendirianku dalam melalui rasa sakit itu. seandainya aku tak benar-benar sendiri saat itu, aku mungkin tak punya kesempatan untuk memahami siapa diriku dan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diriku. ini adalah hadiah terbesar yang telah tuhan berikan lewat rasa sakit ini.

selamat berbahagia,





Leave a Comment