Cinta, pernikahan dan kepala batu
Uncategorized December 5th, 2008
malam ini aku mendapat sebuah pertanyaan,
“apakah aku sumber kekuatanmu?
and i said yes..
“apakah aku satu-satunya?”
and i said no..
Ya, aku mungkin bisa mencintai seseorang tapi sulit untuk seorang perempuan keras kepala seperti aku untuk bisa memberikan utuh pada seseorang, aku tak bisa melihat “satu” dan “saja”
mencintai seorang lelaki bagiku teramat penting, tapi bukan satu-satunya makna hidup. masih ada banyak hal yang mewarnai hidup selain itu. suatu saat nanti, aku ingin menjadikan suamiku sebagai satu-satunya lelaki dalam hidupku, seseorang yang kuberikan kesetiaan dan kepercayaan utuh. tapi jauh di dalam hatiku, aku tahu itu tak benar.keutuhan itu hanya milik kita dan tuhan. keutuhan itu tidak bisa dipertukarkan dengan apapun, sekalipun sebuah pernikahan.
beberapa waktu yang lalu, aku teramat menginginkan sebuah pernikahan, sebuah keluarga. kini aku bertanya ulang pada diriku. yakinkah sebuah pernikahan yang kuinginkan?
jawabannya, Ya! tapi bukan pernikahan normal seperti lainnya. bukan pernikahan dimana suami adalah kepala keluarga, di mana perempuan bekerja di wilayah domestik. bukan pernikahan di mana suami mencari uang dan si istri mengatur keuangan. bukan pernikahan di mana kedua-duanya melihat keluarganya sebagai “hidup”, bukan pernikahan di mana yang satu mengikuti kehendak yang lain. Bukan !
Aku tidak menikah untuk mendapatkan suami atau kepala keluarga yang bertanggung jawab atas diriku. setiap orang bertanggung jawab atas dirinya masing-masing. aku ingin menikah untuk menemukan seorang partner yang bergairah untuk “hidup”, menemukan partner untuk menikmati “hidup” dan mewujudkan visi “hidup”, menemukan partner untuk berjuang meraih titik tertinggi kehidupan sebagai manusia seutuhnya. tak ada yang lebih tinggi dari yang lainnya, tak ada yang lebih berkuasa atas yang lainnya. tak perlu ada kata “utuh” karena setiap dari ketidaksempurnaan itu adalah keutuhan yang sempurna.
apapun yang ada di dunia ini hanya titipan, hanya sementara. ada saatnya kita memiliki, ada saatnya kita kehilangan. tak ada yang benar-benar utuh.
wajar jika ibuku ketakutan akan kesendirianku, dengan isi kepala batuku ini, kupikir takkan mudah menemukan pasangan yang cocok denganku. namun aku tetap yakin, di luar sana masih ada lelaki aneh yang bisa sejalan denganku.
About
Leave a Comment