Petition to God

Uncategorized December 14th, 2008

Elizabeth Gilbert, dalam bukunya Eat Pray and Love menulis sebuah petisi pada tuhan. saat itu ia dan iva, seorang temannya, sedang berada dalam perjalanan menuju kansas. dalam sebuah percakapan, gilbert berkisah pada iva tentang kekalutannya mengenai proses perceraian yang tak kunjung usai, suaminya selalu meolak menandatangi surat cerai meskipun ia sudah menyetujui permintaan suaminya untuk memiliki separuh harta mereka. “masa aku harus menulis petisi pada tuhan?” kata gilbert “kenapa tidak?” jawab iva “aku tidak berani meminta” kata gilbert lagi “kenapa tidak, kamu adalah bagian dari semesta, kenapa kamu tidak meminta pada semesta?”jawab iva lagi kali ini gilbert diam lalu mengambil secarik kertas dan mulai menulis. gilbert benar-benar membuat petisi pada tuhan. selesai membuat petisi, mereka berdua menyebut setiap nama, mulai dari keluarga, sahabat dan semua orang yang mereka kenal, bahkan yang tidak mereka kenal, seakan-akan mereka menandatangani petisi tersebut.selang berapa lama, ketika gilbert baru tertidur sebentar, teleponnya berdering. “He just sign up.” kabar gembira akhirnya tiba. aku tertegun sekaligus tertawa membaca kisah ini, apalagi membaca petisi yang dibuat gilbert untuk tuhan. sebetulnya apa yang dilakukan gilbert adalah doa sekaligus The Secret, secara tidak sadar ia telah membuat semesta mengabulkan keinginannya. hmmm, mungkin tidak ada salahnya jika aku juga membuat petisi pada tuhan. apa kira-kira isi petisiku, let’s try…. Dear God, maaf aku sudah lama sekali tidak menyapamu. semoga kamu mengampuni dan tetap mengasihi hambamu yang bodoh ini. semoga kedatanganku kali ini tidak terlambat. begini tuhan, situasiku saat ini serba salah. aku tahu, khawatir itu tidak baik, tapi pada kenyataannya aku khawatir soal penerbitan bukuku bulan depan. aku selalu merasa aku sudah siap mental menghadapi segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi nanti mengenai kontroversi buku ini. tapi memang, akhir-akhir ini sebagian waktuku terenggut hanya karena khawatir bahwa akan ada banyak kecaman untukku nanti. tuhan, aku meminta bantuanmu untuk campur tangan dalam hal ini. bantulah aku agar kekhawatiranku ini hilang, buatlah aku yakin bahwa niat baik akan bisa diterima oleh orang-orang yang membaca buku ini. bolak-balik lah hati setiap orang yang sinis pada isu ini. tuhan, aku yakin Kau tahu aku menulis buku ini agar bisa membantu banyak perempuan di luar sana. jika aku kemudian goyah dan lemah, bagaimana aku bisa membantu dan menguatkan orang lain. kuatkanlah aku tuhan, karena kekuatan yang kau berikan akan bermanfaat untuk kubagi dengan banyak perempuan di luar sana. tolong, jangan membuatku mati konyol akibat buku ini. satu lagi tuhan, begini…saat ini aku tidak paham perasaanku. ada dua lelaki yang membuatku bingung dengan perasaanku sendiri. kini aku bahkan tak paham bagaimana perasaanku pada mereka, aku malah merasa terperangkap dalam situasi ini. aku tidak mau begini tuhan. keadaan ini tidak hanya menyiksaku, namun juga menyiksa semua orang yang ada di dalamnya. seharusnya satu sama lain saling menyayangi, namun situasi ini kadang membuat kami saling menyakiti. tuhan, aku tidak ingin menyakiti siapapun, apalagi menghancurkan perasaan orang yang menyayangi dan mengasihiku. tuhan berilah aku dan semua yang ada dalam situasi ini jalan yang terbaik. beri aku petunjuk apa yang seharusnya kulakukan untuk memperbaiki keadaan ini sekaligus menemukan kembali hatiku di tempat yang seharusnya. maaf, tuhan…masih ada satu lagi. begini, hingga saat ini aku kadang masih kebingungan untuk makan sesuap nasi. untunglah Engkau memberiku seorang ibu kos yang baik hati yang memahami situasiku. terimakasih. sebenarnya begini, di satu sisi aku ingin bekerja membantu banyak orang lain, namun di sisi lain aku juga kadang masih bingung mengurus diriku sendiri. bukankah kontras, bagaimana aku bisa optimal membantu orang lain jika aku saja belum memenuhi tanggung jawab untuk mengurus tubuh dan kesehatanku. tuhan, kumohon campur tangan kuasamu dalam hal ini. berilah aku peluang untuk mandiri, setidaknya aku tidak perlu kebingungan untuk makan dan bayar kos. setidaknya aku tak mau lagi merepotkan orang tuaku. tuhan, untuk yang satu ini, aku sungguh meminta bantuanmu, karena hal ini berhubungan dengan dignity kemanusiaanku. sudah kok tuhan, terimakasih sudah mendengarkanku. semoga orang-orang yang membaca petisi ini mengamini dan mengirimkan doanya untukku.