Krisis identitas ke-islam-anku..
Uncategorized November 24th, 2008
Hujan turun deras, dingin mulai menusuk dan menghentikan langkahku. Setengah basah kuyup, kuparkir motor di depan sebuah warnet. Setengah tubuhku sudah mulai kedinginan. Kedatanganku disambut manis para operator dan penjaga warnet, senyuman yang disusul kabar tak menyenangkan. Warnet sedang offline, ada maintenance dari pusat, katanya begitu.
Aku duduk di sebuah kursi di tempat parkir, mendekap sedikit sisa panas tubuhku sambil menatap hujan yang mengguyur semakin deras.
hujan kali ini mempertanyakan sebuah kegelisahan yang kupendam selama beberapa minggu terakhir ini. sebuah pertanyaan sederhana yang sulit kuurai dalam kata, mungkin karena aku tak punya jawabannya.
RUU Pornografi, diskriminasi terhadap post-abortus, buku Irshad manji, dan hukuman mati bagi kedua bom bali yang justru menjadi pahlawan, kekerasan terhadap perempuan yang berdalih agama, sungguh membuatku bingung akan identitas ke-islamanku.
Islam yang mana? Tuhan yang mana? Selalu itu tanyaku di dalam hati.
Akan lebih mudah bagiku untuk keluar saja dari agama yang kuanut saat ini dan membantah bahwa islam dalah agama yang terbaik. Tapi tidak! Sekalipun aku bukan seorang hamba yang baik, namun jauh di dalam hatiku aku tetap yakin bahwa islam adalah agama yang kuyakini benar. Bahwa islam adalah agamaku. Anehnya, apa yang kulihat dari kebanyakan orang islam di sekitarku tak menunjukkan islam seperti apa yang ada di dalam bayanganku.
Bagiku, islam dalah rahmatan lil alamin, semakin kita memaknai islam semakin kita memahami betapa pentingnya nilai toleransi, saling menghargai, saling mengasihi dan menjaga perdamaian. Namun seringkali yang kulihat di sekelilingku orang-orang saling menyakiti, saling menuding dan saling mengecam satu sama lain dengan dalih agama.
Agama yang mana? Islam yang mana?
Apakah islam yang di bawa Muhammad? Islam yang nyata datang dari wahyu tuhan? Ataukah islam yang sudah bercampur dengan budaya arab yang saat itu masih sangat patriarki? Ataukah islam yang sedemikian rupa sudah dipetakan oleh para khalifah,para pembesar, para politikus? Ataukah islam yang ada dalam ingatan para penghapal hadits yang mungkin saja ingatan mereka tak selalu benar? Atau islam yang ada di dalam Qur’an yang disusun jauh setelah kematian Nabi Muhammad? Entah, aku lebih percaya pada islam yang ada di dalam hatiku.
Nabi Muhammad datang menjenguk dan mendoakan seseorang yang biasa mencacinya setiap hari. Lalu siapakah kalian yang mengaku pengikut Muhammad tapi saling membunuh? Nabi Muhammad sedemikian rupa menyanjung, mengasihi dan menghormati para istri nya, lalu siapakah kalian yang berhak memukul istri kalian atas nama agama?
Aku tak hapal al-qur’an atau hadits, aku tak begitu mengerti isi keduanya. Namun aku yakin bahwa kebenaran yang hakiki ada di dalam setiap hati manusia. Kebenaran hakiki menjadi hak mutlak setiap orang, menjadi sebuah nilai tak terukur yang tak bisa di beli oleh apapun. Sejauh ini, aku mencoba mendengarkan hati kecilku bahwa nurani tak pernah salah. Bahwa hal-hal baik harus ditegakkan di muka bumi ini, bahwa cinta kasih adalah kekuatan yang menyatukan kehidupan manusia, yang membuat manusia bertahan di tengah kehidupan yang sulit.
Namun, sekali lagi pertanyaanku adalah : kenapa kata hatiku seringkali berbeda dengan kenyataan yang kulihat?
Aku berada di tengah-tengah. Orang-orang islam membuatku bingung akan kebenaran itu sendiri, namun di sisi lain, ketika orang-orang non-islam menilai islam sedemikian rupa buruknya, aku justru tetap yakin bahwa mereka salah. Aku tetap merasa harus memperjuangkan kebenaran yang kuyakini.
Hingga detik ini, aku masih mempertanyakan identitas keislamanku. Mungkin sudah sepantasnya aku menantang diriku sendiri untuk melaksanakan shalat 5 waktu dan bertanya semakin dekat pada tuhan tentang kebenaran yang hakiki.
Aku belum menjadi muslim yang baik, aku masih berusaha menemukan islam yang ada di dalam hatiku, di dalam fikiranku yang kuyakin sama baiknya bagi setiap orang. Islam yang dibawa Nabi Muhammad dengan damai dan kasih sayang, bukan islam yang di bawa di tengah peperangan dan kekejian.
aku harus bisa bersikap adil pada diriku sendiri, mengasihi diri sendiri, menghargai diri sendiri, mencintai tuhan sebagaimana tuhan mencintaiku, sebelum aku mengajukan pertanyaan ini pada kalian semua. Sudahkan kita semua berfikir begitu?
Hujan masih turun deras, magrib segera tiba. Semoga tuhan datang mengetuk pintu hatiku dan memberiku jawaban. Amin.
About
Leave a Comment