Merajut mimpi dalam remang
Uncategorized October 22nd, 2008
Sewaktu kecil, aku sering duduk di samping ayahku menonton “Dunia Dalam Berita”, melalui kotak kecil itu aku melihat dengan mata kecilku seperti apa manusia di belahan bumi lainnya. Cerita tentang Perang Teluk, Kelaparan di Afrika, dan Bosnia Herzegovina sudah sangat akrab di mata dan telingaku setiap malamnya, selain kisah hebat Mike Tyson dan Muhammad Ali, jagoan ayahku. Tanpa sadar, otakku yang kecil menyimpan semua memori itu dan memantapkan hatiku untuk mengirimkan doa untuk mereka di sana.
Ketika aku masuk TPA ( Taman Pendidikan Al-Qur’an), Salah satu guru kesayanganku, Pak Agus, Selalu bercerita tentang para muslim yang menderita karena kekejaman Serbia. Waktu itu mungkin aku masih berumur 5 atau 6 tahun, dan untuk pertama kalinya aku merasa ingin berjihad. Aku selalu membayangkan diriku bisa pergi ke Bosnia dan membantu mereka yang menderita. Aku bisa menangis sendiri di dalam kamar setiap kali aku memikirkan penderitaan mereka.
Sejak saat itu kupikir menjadi dokter adalah satu-satunya jalan agar aku bisa membantu orang lain. Dalam bayanganku, suatu saat ketika aku besar nanti aku bisa menjadi salah satu relawan PBB dan di tugaskan ke negara-negara konflik untuk membantu mereka.
Seiring perjalananku menuju dewasa, ternyata aku lebih asyik bermain daripada belajar. Bahkan ketika aku berada di fakultas Kedokteran UII, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar kampus daripada masuk kelas. Alhasil, mimpi kecilku ambyaaar….
Aku mengecewakan diriku sendiri, juga banyak orang di keluargaku. Jika saya almarhum ayahku tahu, ia akan lebih kecewa lagi karena ia sangat berharap aku bisa menjadi seorang dokter..
Kisah kegagalanku tidak berhenti di situ, pada tahun 2004 aku melakukan aborsi dan hal itu adalah awal dari kehancuranku. Selama bertahun-tahun aku mengalami depresi. Hidupku kacau dan ambyaarrr lagi. Aku bahkan tak lagi berani bermimpi. Impianku untuk membantu orang lain sudah kukubur. Bagaimana bisa? Aku bahkan tak bisa membantu diriku sendiri.
Kini sudah 4 tahun berlalu, dengan sedikit keberanian aku bangkit lagi. Ibuku selalu ada di sampingku, di sisiku, di belakangku bahkan di depanku, seperti malaikat. Ia adalah malaikat yang telah membantuku percaya kembali pada kehidupan. Berawal dari iseng, aku mulai menulis kisahku di blog dan berbagi dengan banyak perempuan lain. Aku pun mulai menulis tentang proses pemulihan diriku.
Tanpa mengenyam pendidikan psikologi, tanpa gelar sarjana. Hanya bermodal pelajaran yang kudapat dari pengalamanku, membaca buku dan kemampuan memahami orang lain, aku memberanikan diriku menjadi seorang konselor paska aborsi.
Beberapa minggu yang lalu, tepatnya di malam takbir. Aku mengobrol dengan ibuku.
“Mah, impian kita mulai terkabul.” Kataku
“Sedari dulu, mamah dan bapak ingin aku menjadi dokter tapi aku selalu ingin menjadi penulis. Sekarang aku juga menjadi dokter, tidak membantu menyembuhkan luka fisik tapi luka psikis. Aku juga sekaligus menjadi penulis karena aku membantu mereka lewat tulisanku.”
Mamah yang saat itu terbaring di atas tempat tidur tersenyum. Ia baru menyadarinya.
“Jangan lupa bersyukur, semua ini adalah atas kehendak-Nya” nasihat ibuku.
Ya, aku sangat memahami itu. Setelah semua kejadian yang ku alami, hanya Tuhan yang mampu mengangkatku dari titik yang paling rendah hingga ke titik ini.
“Jangan lupa niatkan ibadah, kebaikan yang kamu lakukan akan menjadi sia-sia tanpa niat ibadah.” Tambah ibuku.
Aku tersenyum. Ya, aku lupa. Ternyata aku masih bisa berjihad. Perjuanganku ternyata bukan di tanah Afrika, bukan di Bosnia, Iran, Irak atau Kuwait. Di sinilah tempatku berjuang, di tanah kelahiranku sendiri. Dijalan ini pula aku mampu berjihad.
Terimakasih Tuhan. Subhanallah.
About
Sebab Allah mengetahui rancangan2 apa yang ada pada-Nya mengenai kamu, rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
Keep the dream alive and be grateful for every step. GBU