Menyimak dengan hati - menyenangkan juga lelah
Uncategorized October 21st, 2008
Aku baru saja pulang. Kutung, anjing pemilik rumah menyambutku dengan cerewet. Aku menyapanya sebentar lalu segera menuju kamarku. Kamarku berada di lantai dua kos Baraka, di sana hanya ada 2 kamar dengan balkon kecil. Aku menaiki tangga dan membuka pintu balkon. Tidak ada sisa botol bir di atas meja, ah aku tak jadi merasa bersalah karena tak pulang lebih cepat. Seharusnya malam ini teman-teman datang dan minum bir bersama, sepertinya pesta di batalkan. Aku segera masuk ke dalam kamar, mengganti baju dan menyiapkan laptop di meja di balkon.Tak lama, aku mendengar teman sebelah kamarku terbangun. Ia keluar dan duduk di kursi kayu tepat di depanku. Aku tak jadi bekerja, laptop kumatikan lagi. Sepertinya ia butuh teman bicara.
Bintang tak muncul malam ini. Cahaya di langit mungkin datang dari surga, menyejukan dan menundukan hati. Selama berjam-jam kami mengobrol ditemani remang lampu, rokok, bir bintang zero dan sirup ABC rasa jeruk. Obat nyamuk yang menyala di bawah meja membuat nyamuk-nyamuk penggosip itu menjauhi kulit kami yang menggoda.
“Feelin better now?” tanyaku
“Not really” jawabnya tanpa memandangku sedikitpun
“ I can’t sleep “
Kami terus berbicara hingga subuh, dengan setengah mengantuk aku mencoba memancingnya mengidentifikasi permasalahannya dan mencari jalan keluar bagi dirinya sendiri. Sebungkus rokok sudah ludes, 2 gelas sirup ABC rasa jeruk ia nikmati. Dalam beberapa jam ia mulai rileks dan merubah posisi duduknya. Jika sebelumnya ia duduk dengan tegang, kini ia mulai berbaring di atas kursi kayu panjang dan menatap langit. Ada sedikit canda dan tawa di akhir obrolan.
“I feel more relax”
Aku senang mendengarnya. Aku mengusulkan sebuah ide yang bisa di cobanya untuk mengurangi rasa gelisahnya. Ia setuju untuk mencobanya dalam beberapa hari ini.
“You just need one little simple thing to make a change” kataku
“Don’t push your self too hard”
Sehari sebelumnya, Ia tiba-tiba pulang lebih dulu dari tempat kerjanya dan langsung masuk menuju kamarku. Aku tengah sibuk dengan laptopku mengerjakan logo SAMSARA, dan wajahnya yang redup itu membuatku terpaksa me-stand by laptopku.
“ can I talk with you?” tanyanya
“ 15 minutes is enough” tambahnya lagi
Ia duduk di lantai kayu dan menyenderkan tubuhnya di dinding. Aku turun dari tempat tidur dan duduk bersamanya. Cerita di mulai,Ia hampir melakukan bunuh diri beberapa bulan yang lalu, kesedihan dan kebingungan membuatnya putus asa. Aku mendengarkan.
***
Hubunganku dengan teman-teman mulai berubah semenjak mereka mengetahui pekerjaanku sebagai konselor. Mereka mulai menceritakan masalah mereka padaku dan meminta saranku. Hal ini menyenangkan untukku sekaligus membuatku kaget. Karena orang-orang yang ku kenal dekat dan kupikir baik-baik saja ternyata menyimpan banyak trauma dalam diri mereka. Kali ini, aku tidak hanya menangani perempuan post-abortus, tapi juga orang-orang dengan permasalahan yang berbeda-beda dengan rentang umur yang sangat variatif. Mulai dari permasalahan cinta, rasa tidak percaya diri, tekanan keluarga bahakan dorongan untuk bunuh diri. Setriap orang selalu memiliki kasus yang unik dan berbeda. Satu hal yang kupelajari adalah, proses pengasuhan mereka ketika anak-anak memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam persepsi mereka melihat diri mereka dan permasalahan mereeka sendiri.
Seminggu terakhir ini adalah minggu yang cukup melelahkan. Dalam beberapa hari aku melakukan konseling dengan orang-orang yang ku kenal dekat. Konseling kali ini berbeda dari konseling-konseling sebelumnya yang hanya beberapa menit atau beberapa jam, atau hanya melalui email. Dalam seminggu ini aku membantu beberapa orang dengan melakukan konseling selama berjam-jam setiap harinya, bahkan hampir setengah hari hanya aku pakai untuk menangani satu klien. Lumayan menguras tenaga dan energi.
Aku cukup senang bisa membantu mereka, namun harus kuakui aku harus lebih disiplin dalam melakukan konseling. Aku juga harus mulai memikirkan bagaimana mentransformasi kemampuan konseling pada staff lain di SAMSARA, karena aku akan kewalahan jika terus menangani ini sendirian. Jika aku terlalu lelah, aku khawatir hal itu akan mempengaruhi proses konseling itu sendiri.
About
Leave a Comment