Jangan takut sayang, ini mama Inna…
Uncategorized October 27th, 2008
20 bulan yang lalu, aku bertemu Pi’i untuk pertama kalinya. Mama cindy melahirkan 3 ekor kucing yang sehat dan menggemaskan. Umur Pi’i waktu itu baru 2 minggu, aku membawanya pulang ke rumah kontrakanku di Condong Catur. Sejak saat itu, aku menjadi mama untuk Pi’i. Beberapa minggu kemudian, kedua saudara Pi’i yang lain ikut bersamaku. Kuberi nama Edo dan Koski. Mereka bukan kucing peliharaanku, mereka adalah anak-anakku. Mereka telah mengajarkanku tentang kasih sayang dan kesetiaan.
Edo dan Pi’i ikut pindah bersamaku ke Bekasi. Andi membawa mereka dengan kereta ekonomi hingga mereka tiba di rumah baru mereka. Kehadiran mereka membantuku melalui masa-masa sulit. Aku mencurahkan hatiku untuk mereka, dan sebaliknya mereka memberikan kasih sayang dan kesetiaan yang luar biasa. Aku pulang kerja setiap pukul 3 pagi, lelah luar biasa. Ketika aku tiba di rumah, mereka menungguku di depan pintu, dan seketika lelahku hilang ketika aku bertemu dengan mereka.
Edo mati setahun yang lalu, ia tidak ada di rumah ketika aku sekeluarga akan pulang ke tasik. Aku akhirnya pulang ke tasik tanpa Edo. Seminggu kemudian penjaga rumah memberitahu kalau Edo mati di ruang tamu. Kemungkinannya Edo pulang ke rumah dan menungguku. Selama berhari-hari ia terkurung di dalam rumah tanpa makanan. Edo mati di atas sofa tempat ia tidur. Aku mengirimkan doa untuknya.
Satu hal dari Pi’i yang tidak bisa aku lupakan adalah tatapan matanya. Lewat tatapan matanya aku tahu ia mengerti diriku. Hampir setiap malam aku bercerita pada Pi’i segala hal yang kulakukan selama sehari penuh. Aku pun bercerita padanya tentang segala suka dan dukaku. Aku menangis diam-diam di dalam kamar bersama Pi’i. Ketika kesedihanku begitu dalam, Pi’i akan menjilat air mataku hingga aku tak mungkin ingkar untuk mencintainya.
Ketika aku meninggalkan rumah, Pi’i hanya berdiam diri di atas tempat tidurku. Ia menungguku dengan setia. Orang-orang rumah akan menelponku hanya untuk memberitahu bahwa Pi’i masih menungguku. Aku seringkali menelpon rumah dan meminta gagang telpon di arahkan pada Pi’i agar ia bisa mendengar suaraku, dan seperti biasa aku akan mengatakan ; Mama inna sayang pi’i, mama inna sebentar lagi pulang.
Awal tahun ini aku kembali ke Jogja, selama 2 bulan pertama aku berpisah dengan Pi’i dan perpisahan itu amat menyakitkan. Aku selalu merindukannya, selalu mengingatnya menjelang tidurku. Sekali lagi, andi menjemput Pi’i ke bekasi agar aku bisa bersamanya. Pi’i tiba di Jogja di suatu pagi hari di bulan Februari.
Kali ini, aku melakukan kesalahan besar. Karena kelalaianku, Pi’i hilang. Selama sebulan aku dan andi terus mencarinya, aku bahkan memasang pamflet di mana-mana. Nihil. Pi’i tidak pernah kembali ke pelukanku.
aku hanya meminta pada Tuhan agar Ia memelihara Pi’i. Memberinya tempat hangat ketika hujan datang, menyediakan makanan untuk Pi’i di saat ia lapar. Aku meminta matahari membuatnya tetap hangat, dan memohon agar malam tak menyiksanya dalam dingin. Aku yakin, Tuhan akan merawat Pi’i dengan baik.
Bulan demi bulan ku lalui, aku merawat kucing baru, kuberi nama Yin dan Yang. Pada mereka aku mencurahkan kasih sayangku. Yang mati muda karena tertabrak motor. Sejak saat itu Yin berganti nama menjadi YinYang. Aku mencintainya, namun cintaku pada Pi’i tetap tak pernah berkurang, aku masih mengirimkan doa untuk Pi’i.
Ketika aku pindah ke rumah baru ini, suatu malam aku bertemu dengan kucing yang sangat mirip dengan Pi’i. Beberapa kali aku melihatnya, dan aku semakin yankin bahwa itu adalah Pi’i. Aku memanggilnya dan ia dengan sedikit takut memahami ucapanku. Aku bisa berbicara dengan Pi’i. Ia paham semua ucapanku. Dan tatapan mata itu tetap sama, tatapan mata yang mengerti ucapanku.
Tuhan mempertemukan kami kembali.
Pi’i sudah menjadi kucing liar. Ia penuh dengan rasa curiga dan ketakutan. Tak mudah untukku mengajaknya berbicara. Setiapkali melihatku ia akan berlari namun jika aku memanggil namanya ia akan berhenti dan menatapku, lalu lari lagi. Beberapa kali dalam seminggu ia akan datang ke balkon kamarku, dan lari setiap kali melihatku. Namun ia tak pernah benar-benar menjauh. Ia lari dan hanya mencari tempat di mana kami masih bisa saling melihat. Aku harus bersabar menghadapinya. Setidaknya, Pi’i baik-baik saja, aku patut bersyukur.
Namun ada kalanya kerinduan untuk membelai Pi’i tidak tertahan. Seperti malam ini, kami hanya saling bertatapan dalam kegelapan namun Pi’i tak mau kudekati. Dengan putus asa, aku menangis di hadapan Pi’i. Rasa rindu dan cinta bergemuruh di dadaku. Aku hanya ingin membelaimu sayangku…
Tiba-tiba malam ini aku menyadari sesuatu. Betapa menyakitkannya menjadi seorang ibu yang di tolak anaknya sendiri, sebagaimana menyakitkannya seorang anak yang di tolak ibunya sendiri. Aku jadi ingat Cisco, jabang bayiku. Seandainya ia hidup dan memiliki perasaan, betapa menyakitkan untuknya karena aku telah menolak kelahirannya. Betapa buruknya aku.
Maafkan mama, cisco sayang…
Sekali lagi, aku belajar sesuatu yang berharga dari Pi’i…sekali lagi, seekor kucing membawa kebijakan bagi manusia sepertiku…
Tuhan, terimakasih telah mengingatkanku semasa aku masih punya waktu untuk menyadarinya. Kasihmu memang ada di mana-mana.
About
Leave a Comment