Menulis bisa jadi penyakit
Uncategorized September 9th, 2008
Hari makin sore, aku masih menulis. Tugas akhir kelas narasi harus selesai hari ini. bunyi dari dalam perutku kuhiraukan, aku tidak bisa mengalihkan fokusku. Tugas harus selesai sekarang juga.
Kubaca setiap kata, setiap paragraf, lalu ku ulang. Ku ulang lagi. Beberapa ejaan masih salah dan selalu saja ada kalimat yang kurang pas untuk di baca. Entah berapa kali aku membaca ulang, rasanya tetap saja ada yang kurang. Aku selalu tak puas dengan hasil tulisanku.
Jam menunjukkan pukul 19.00 perutku sudah tak kuat menahan lapar. Sekali lagi kupaksakan membaca ulang hasil tulisanku. Syukurlah, kali ini aku merasa cukup puas. Tugas narasi selesai dengan jumlah 5.938 kata. Laptop kumasukan ke dalam tas, kabel-kabel kurapihkan. Aku bergegas mandi.
Penyakit Menulis
Sebuah angkringan di pertigaan nitipuran menjadi tempat makan malamku. Aku duduk berdua di sana dengan mas penjual angkringan. Satu nasi kucing, dua gorengan tahu, satu tusuk sate usus dan es teh. Aku makan tanpa berhenti berfikir. Pandanganku mengarah ke sebuah toko baju bekas di seberang jalan. Aku merasa sibuk. Butuh beberapa saat untuk aku menyadari, bahwa aku tidak berbicara pada siapapun hari ini. mas penjual angkringan adalah orang pertama yang mendengar suaraku.
Aih, aku baru sadar. Sepertinya penyakitku sudah kambuh. Setiap kali aku harus menyelesaikan sebuah tulisan, maka aku akan asyik dengan fikiranku sendiri. Lebih suka menyendiri, total menyendiri. Sejak sahur tadi malam, aku tidak berbicara dengan siapapun, tak ingin bicara dengan siapapun, dan suara-suara gaduh itu ternyata adalah suara si aku dan si saya dalam fikiranku sendiri.
Ada dua sisi yang kontras di dalam diriku. Banyak orang mengenalku sebagai orang yang aktif berbicara, selalu ramai dan tak bisa diam. Tapi di sisi lain, aku adalah seorang pendiam dan penyendiri yang akut. Terutama ketika aku harus menyelesaikan tulisan, penyakitku biasanya kambuh. Anehnya, kadang aku merasa menikmatinya. Saat penyakit akut ini mulai muncul bisa jadi di situlah aku sedang tumbuh. Kamar sebelah yang tumbuh, meminjam istilah Yoyok Jewe.
Penyakitku ini semakin akut karena aku baru saja pindah ke kos baru. Rumahku kali ini tidak jauh dari tempat tinggalku sebelumnya. Sebagian rumah ini terbuat dari kayu dan bambu, cantik dan sederhana. Lantai pertama rumah ini kosong, aku menyewa sebuah kamar di lantai dua. Di sana hanya ada dua orang, aku dan kangkung. Kangkung adalah seorang musisi punk rock asal bandung . Namun, sejak hari pertama kepindahanku, kangkung tidak pernah ada di rumah. Otomatis, aku sendiri. Di depan rumah, ada sebuah tangga kayu untuk menuju kamarku. Di sana hanya ada dua kamar dengan paviliun kecil yang menyambung. Paviliun itu kusulap menjadi ruang tengah yang cantik. Dari paviliun itu aku bisa menikmati matahari terbenam.
Berada di sana, dengan dinding kamar yang terbuat dari bambu, lantai kayu, pemandangan hijau sawah dan matahari terbenam, tentu saja penyakitku semakin akut. Aku mulai merasa tidak perlu berkomunikasi dengan siapapun.
Aku baru saja menyelesaikan sebuah tulisan mengenai Taring Padi, komunitas seni asal Yogyakarta. aku menulis tentang kelompok ini melalui karakter Yustoni Volunteero, salah satu seniman Taring Padi. Seperti tulisan-tulisanku yang lain, aku tidak akan memulai menulis sebelum aku menemukan emosi terhadap materi tulisan itu. Aku punya waktu hampir dua bulan untuk menulis, namun aku baru menuliskan kata pertama seminggu sebelum deadline, dan selesai dalam waktu 5 hari.
Ketika menulis, fikiranku tidak bisa lepas. Seringkali materi yang kutulis terbawa dalam mimpi. Sangat sulit untuk tidur nyenyak ketika ada sesuatu yang membayang-bayangi.Selama berhari-hari aku memimpikan Toni. Melihatnya dalam mimpiku tengah tersenyum, mencoba menyampaikan pesan tak tersirat yang tak terekam dalam wawancara. Aku melihatnya di antara teman-teman Taring Padi lainnya, dengan senyumnya yang konyol setengah menggoda. Syukurlah, hal ini membuatku lebih mudah terikat dengan tulisanku secara emosional.
Tulisan kali ini lebih sulit dari tulisan sebelumnya, karena merupakan jurnalisme di mana semuanya harus fakta 100% tapi juga harus memikat seperti sastra. Nah, piye iki? Bisa di bilang aku sangat hati-hati dalam menulis kali ini.
Satu tulisan akhirnya selesai. Masih ada satu tulisan lain yang harus di selesaikan.
Hadiah Untukku
Selesai makan malam, aku langsung menuju pasar Klithikan. Menjual kotak handphone yang tak terpakai lagi. lumayan laku 20.000 plus 1000 untuk bayar parkir. Aku menuju Bakpia Java di daerah pathuk. Beberapa hari sebelumnya aku sempat mengantar andi membeli oleh-oleh di sini. Saat itu aku mencoba salah satu bakpia rasa keju, enak. Dan rasa bakpia keju itu terbawa dalam mimpiku. Malam ini, aku memutuskan memberi diriku sendiri sebuah hadiah istimewa, sekotak bakpia keju.
Tak hanya bakpia, malam ini aku juga membersihkan laptopku setelah hampir sebulan kubiarkan kotor dan berdebu. Aku berjanji tidak akan membersihkannya selama tulisanku belum selesai. Syukurlah, karena keinginan untuk segera membersihkan laptop inilah yang menjadi salah satu motivasiku untuk segera menyelesaikan tulisan.
Dengan sekotak bakpia keju di tangan, aku menuju gampingan. Di sana, dengan hotspot gratisannya, aku mengedit tulisanku untuk terakhir kalinya, lalu ku kirim. Kali ini menjadi 4.038 kata. Lega.
Aku pulang dan memutuskan untuk mampir membeli cap cay goreng untuk sahur nanti. Ini juga sebuah perayaan. Selama puasa, menu sahurku selalu dengan telur dadar, enak dan murah. Kali ini aku akan makan cap cay goreng. Alhamdulilah.
About
Leave a Comment