Untuk Grace Clarissa Susetyo
Uncategorized August 13th, 2008
Terimakasih untuk kedatangannya ke kota yang penuh asap rokok
Setahun berlalu semenjak perkenalan kita yang pertama dan kali ini adalah perkenalan yang sesungguhnya. Aku mengenalmu tak lebih dari sekedar obrolan tentang suka cita, luka, perjuangan dan pencarian tuhan di tanah yang gersang. Di antara mal-mal kota dan kopi-kopi mahal kita menjalin persahabatan. Di bagian dunia lain yang sebenarnya hanya sedikit mendefinisikan diriku. Aku lebih sering merasa kelaparan daripada kekenyangan. Aku terbiasa terbangun dengan tubuh yang pegal karena matras tipis, dan lebih senang berkata semena-mena untuk merilekskan otot-otot lidah yang kaku.
Kamu mungkin sedikit kaget melihatku kali ini. aku juga sedikit kaget melihatmu. Mungkin kamu membenci asap-asap rokok yang kukenyot tanpa mengenal waktu, atau kaget mendengarku berbicara kasar dan melantur, tertawa ngekek tanpa kharisma. Ya itulah diriku. Aku lebih sering bersikap bodoh dan konyol, sekaligus menikmatinya. Sama kagetnya seperti aku menyadari bahwa ternyata kamu lebih banyak menghabiskan waktu di kamar mandi daripada di depan TV, dan betapa higienis-nya dirimu itu.
Awalnya aku grogi, karena mungkin kita sudah punya ekspektasi yang terlalu tinggi satu sama lain. Namun kemudian aku menyadari bahwa justru di saat-saat seperti ini kita sebenarnya bisa saling mengenal lebih jauh. Obrolan kita kemarin-kemarin hanya sebagian dari diri kita, dan kini sedikit demi sedikit mulai terungkap sisi lain kita.
Aku sempat merasa jengkel , awalnya kupikir kamu lumayan manja untuk bisa hidup susah. I wonder how if you were in my shoes? Hmm…namun ternyata aku salah, kamu bisa menikmati jalanan malam yang sepi dan dingin, membiarkan debu-debu kotor mengelus kulit halusmu, menghirup bau kereta ekonomi yang apek dan kotor, bersenda gurau di warung angkringan yang murahan.
Terimakasih karena 4 hari kemarin tak hanya menjadi liburan untukmu namun juga menjadi hadiah istimewa untukku. Aku bisa merasakan mandi air hangat, tidur nyenyak di atas ranjang yang empuk, dan memanjakan perutku dengan menu sarapan beraneka ragam yang menggugah selera. Bagiku itu adalah sebuah kenikmatan. Terimakasih sekali grace.
Aku masih ingat celetukan yoyo jewe selepas kami keluar dari pintu hotel
“sekarang kita kembali ke realita”
Aku tertawa terkekeh, ya..
“Berarti yang tadi bukan realita ya?”
Dan kami hanya tersenyum
Aku dan yoyo jewe sempat duduk beberapa saat di tempat parkir. Berbagi satu batang rokok, satu-satunya harta yang tersisa pagi itu. Beberapa saat sebelum kamu berangkat meninggalkan kota jogja.ya, inilah realita kami, aku dan yoyo jewe juga danto dan sono. Kembali di jalanan dengan daki yang melekat di tubuh, dengan impian di ubun-ubun yang keluar batas orang normal.
Siang itu aku berpisah dengan yoyo jewe, dengan tubuh yang lunglai dan kantong kosong, kembali ke realita kami.
Pinta pada angin malam agar tubuhmu belajar menerima dingin, ketika bintang mengintip di langit solo dan pedal sepeda membuat otot-ototmu belajar tumbuh bergemuruh,di sanalah ada suka cita di antara rambut yang tergerai dan basah oleh keringat. Secangkir teh hangat dan dua orang penghisap racun diam-diam mengukir merah di langit pagi. Maskaramu luntur dan embun tak peduli. Tak ada cerita untuk mama tentang perjalanan ini dan semesta akan menyimpan rahasia ini untukmu. Mata sipit berpendar di jalanan yang lengang, kamar sebelah yang tumbuh dan biji mata segitiga untuk dadamu.
About
terimakasih juga sudah menemaniku selama 4 hari di yogya dan memberiku mencicipi sedikit dari duniamu. itu jadi pengalaman berharga untukku. seperti sepotong musik piano di sketsa memorabilia sejenak mempertemukan dua karakter sebelum mereka kembali ke dunia monotonnya masing-masing, menanti alunan musik berikutnya suatu saat nanti
haha… aku “bersih” kalo di rumah aja kalee… kalo di jalan mah peduli amat. ayo bersepeda malam2 lagi, nextime lebih jauh!
thanks for your friendship sis… this is just the beginning. GBU
http://graceclarissa.blogspot.com/2008/08/yogya-diary-agustus-2008.html