Pare dan Komunitas Cangkir Kopi
travelling August 18th, 2008
Pare, 18 Agustus 2008
Tepat sehari setelah penampilan komunitas Cangkir Kopi di acara pagelaran seni SMU 1 pare, Kediri. Achmad Ikhwan Susilo alias Bung Kapit membawakan sebuah musikalisasi puisi berjudul “Kucing” karya Sutardji Calzoum Bahri . Sartika Nasmar, seorang jurnalis yang tengah studi di pare, berkolaborasi dengan komunitas Cangkir Kopi membawakan sebuah lagu karya Wiji Thukul. Saya sendiri, Inna Hudaya, mengedit dan mengaransemen musik untuk puisi sekaligus menjadi manager.
Teater anak sekolah SMU 1 pare tampil berbeda dibanding teater sekolah lainnya yang tampil malam tadi, cukup menarik untuk ukuran anak-anak sekolah yang masih baru mengenal dunia teater. Penampilan mereka cukup membuat saya cemburu, mengingatkan saya pada masa-masa sekolah SMA dulu, selalu menyenangkan dan penuh semangat.
Acara selesai pukul 10 malam. Komunitas Cangkir Kopi ( seharusnya komun itas Termos Kopi karena malam tadi yang di bawa adalah termos berisi kopi panas, bukan cangkir) tidak langsung beranjak pulang dan ikut berjoget bersama anak-anak teater dan panitia yang menutup acara. Kami sempat melakukan meditasi sesaat sebelum akhirnya menyantap nasi bungkus yang di sediakan, sebuah makan malam yang sederhana dan menyenangkan karena kami berbagi nasi bungkus untuk di makan ramai-ramai.
Tika sepertinya masih semangat untuk melewatkan waktu yang tersisa dengan berkumpul lagi dengan anak-anak Cangkir Kopi di Garuda Park, seperti malam-malam sebelumnya yang kami habiskan bersama untuk mengobrol, latihan menyanyi dan menari-nari. Tapi tidak malam ini.
“Saya tak punya tenaga lagi untuk begadang, malam ini saya butuh tempat tidur.”
Akhirnya Kapit membawa kami ke kamar kos Mitha untuk menumpang tidur di sana.
***
Saya dan tika tiba di Pare seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 11 Agustus 2008. Kami menempuh 7 jam perjalanan dari Jogja hanya untuk studi bahasa inggris. Setelah kehabisan kamar di kos yang sebelumnya saya tempati, akhirnya kami menemukan sebuah kos dengan halaman yang luas. Saya, Tika dan Miftah, seorang perempuan asal Nganjuk, menempati sebuah kamar berukuran 3×5m di lantai pertama. Rumah kos ini tepat di depan Daffodils, tempat kursus di mana saya mengambil kelas Speaking, dan tak jauh dari Kresna, tempat kursus di mana saya dan tika mengambil kelas Grammar.
Pendekar Dhaha, begitu saya menyebutnya, adalah sebuah sepeda onthel tua kesayangan saya. Ketika beberapa bulan lalu saya berada di Pare, saya menyewanya dari sebuah persewaan sepeda. Kali ini saya harus kecewa, karena seseorang telah membeli dan membawanya pulang. Akhirnya saya harus menyewa sepeda onthel yang lain, memang lebih baik dari yang sebelumnya, namun tak seistimewa pendekar dhaha, bahkan seminggu setelah mengendarainya saya masih belum memberinya sebuah nama. Tika juga menyewa sepeda onthel dari persewaan sepeda yang sama. Kami tampak lain dari yang lain, sepeda onthel membuat kami tampak unik dan menarik, hal ini terbukti dari perhatian banyak orang yang selalu mengomentari sepeda kami.
Seminggu sudah kami di Pare, namun rasanya jauh lebih lama dari itu. Selain studi, saya juga menikmati waktu bertemu dengan orang-orang baru, banyak pemuda dan pemudi yang datang dari berbagai daerah di jawa ataupun luar jawa, kebanyakan dari mereka adalah pelajar dan mahasiswa. Hal ini menyenangkan karena selain mendapat seorang teman baru juga sekaligus menjadi kesempatan untuk mengembangkan jaringan organisasi Samsara atau sekedar membuka forum diskusi yang berhubungan dengan interest organisasi. Achmad Ikhwan Susilo alias kapit, seorang kawan yang saya kenal ketika pertama kali ke Pare, mempertemukan saya dan tika dengan komunitas cangkir kopi.
Sekilas saya ingin mengingat awal perkenalan saya dan kapit.
Saat itu bulan Mei 2008, saya tiba di Pare untuk studi. Saya mengenal kapit karena ia adalah operator di warnet yang biasa saya datangi. Ia tampak berbeda dari pemuda kebanyakan di desa ini. Saya sempat merasa bosan dengan teman-teman yang jauh lebih muda dan merasa butuh kawan untuk berdiskusi. Dari penampilannya saja saya sudah mengenali perbedaannya, belum lagi karya tulis nya di blog. Saya mulai banyak mengobrol dengannya, berbagi kopi dan tertawa bersama. Semenjak itu kami mulai berkawan.
Beberapa hari terakhir ini, ketika studi kami libur, saya dan tika banyak menghabiskan waktu bersama komunitas Cangkir Kopi. Kapit adalah salah satu pelopor di komunitas ini dan tampaknya sangat berapi-api untuk membuat komunitas ini berbeda dari yang lain, menghasilkan karya yang unik dan segar. Kebanyakan anggotanya adalah anak-anak sekolah, usia yang penuh semangat dan keinginan yang besar. Kapit sepertinya melihat semangat ini di mata anak-anak ini dan ingin bersama-sama menghasilkan sebuah karya. Awalnya kapit ingin menampilkan musikalisasi cerpen karya komunitas, namun karena keterbatasan waktu dan audiens saya harus menolak ide ini dan menawarkan musikalisasi puisi sebagai gantinya. Sisa waktu bisa dipakai untuk permainan musik. Setelah melalui perdebatan yang lumayan panjang, akhirnya mereka oke.
Jum’at malam kami habiskan bersama sebagai awal perkenalan dengan cangkir kopi. Kami terpaksa bergadang sepanjang malam di Garuda park karena kos sudah tutup. Saat-saat yang cukup menyenangkan, karena sebelumnya saya tidak pernah bergadang sepanjang malam di luar rumah kos selama saya di Pare.
Selama 2 malam kami melakukan latihan,cukup melelahkan karena latihan dilakukan bersamaan dengan begadang, menghabiskan banyak energi dan waktu untuk istirahat. Saya sendiri termasuk manager yang cerewet dan perfeksionis, alhasil seringkali tidak puas dengan sikap mereka yang tidak serius. Satu hal yang paling menjengkelkan adalah persepsi bahwa menjadi seniman tak harus memiliki disiplin dan bisa semaunya. Bahwa seniman yang penting nyeni dan bebas tanpa aturan. Bahwa telat adalah salah satu ciri seniman lalu kemudian selalu menjadikan alas an “kami kan seniman” sebagai sebuah pembelaan.
Sekali waktu saya sempat berujar pada kapit bahwa mendorong mereka berkarya adalah suatu hal baik, namun mereka juga butuh disiplin dan mentalitas yang kuat, agar siap menerima kritikan dan kekalahan. Bahwa yang utama bukan hasil, proses menjadi lebih penting. Pada akhirnya hasil yang baik adalah sebuah konsekuensi.
***
Pementasan sudah selesai. Tidak sesempurna yang kami harapkan, namun kami cukup puas. Sekali lagi, proses kami bersama jauh lebih penting. Tak hanya penampilan yang baik, kami juga belajar memaksimalkan kemampuan kami, menemukan sahabat baru dan melewatkan waktu yang menyenangkan penuh tawa, canda dan jogetan yang syur.
About
OsyfnZ Thanks for good post
bravo for cangkir kopi,hohohoho
Keep on blogging!
Great information on your blog!
Nice post.
Thanks for all you ideas! I sure will be back to visit your site again so i can learn more.