Happy Birthday Debbi
Friend or Foe ? August 19th, 2008
Di sini, di kota yang berangin ini aku melaju dengan sepeda tuaku.
Tengah malam kulewatkan begitu saja tanpa dingin yang membeku. Jalanan lengang mengingatkanku pada bertahun-tahun lalu ketika bersama kita mengukir tawa di jalanan. Ada kisah yang tercecer di sudut lampu merah, ada yang menyelip di kedai kopi, ada yang terbawa hingga usai di sebuah kamar sempit di utara jogja. Berapa ketukan di kepala ketika pintu terbuka dan kita saling menunggu kabar dari mulut yang terkatup rapat. Kebisuan sering membuat kita belajar membaca satu sama lain. Pada gores luka di dahimu, pada 8 jahitan di kepala. Sebuah cerita di tuturkan di atas jembatan layang, lalu kau membawaku ke solo untuk menikmati luka sekaligus hidup. Tangisanmu seringkali tertutup di bawah selimut atau di balik jendela kamar yang tak pernah kau buka. Tapi aku tau dan menuliskan puisi untuk setiap yang kausimpan. 96 bulan sejak pertama kita saling mengenal, sekitar 384 minggu 2918 hari 70032 jam, sudah berapa banyak tangis dam tawa? Seratus? Seribu? Entah, namun kita nikmati semua itu. Aku lebih lama melihat kita saling tumbuh, lebih dari aku melihat keluargaku sendiri bertumbuh.Kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama satu sama lain daripada bersama saudara kandung kita masing-masing. Jadi, bagaimana aku tidak melihatmu sebagai keluargaku? Bagaimana aku tidak melihatmu sebagai bagian dari kehidupanku?
Kali ini adalah ucapan yang ke-7 kalinya semenjak pertemuan pertama kita.
Selamat ulang tahun debbi, saudariku !
Dari kota yang berangin ini, cerita masih di simpan dan do’a dikirimkan. Tak ada kerang yang indah, tak ada cincin berlian, tak ada boneka, tak ada rayuan…tapi ada persahabatan, untuk kita!
I wish you all the best, and may god bless you with happiness!

About
Leave a Comment