Binar mata seperti itu seharusnya di miliki oleh setiap pemuda. Binar mata di mana segala sesuatu terjelaskan dengan jernih. Bukan binar mata tanpa luka ataupun binar mata yang berpura-pura bersuka cita. Binar mata yang bagi sebagian orang penuh dengan kenaifan. Ya, naïf. I can see that through your eyes. Namun jangan berkecil hati, naïf adalah sumber hal-hal baik. Bagi sebagian orang naïf jika kita tetap memfokuskan fikiran kita seperti seorang anak kecil yang polos, tanpa rasa takut, tanpa curiga dan tanpa punya banyak pengalaman. Banyak orang dewasa menanggalkan kenaifan mereka dan berusaha melihat dunia sekelilingnya sebagai seorang yang gagah berani. Tanpa mereka sadari banyak hal yang menggerorogoti nilai-nilai baik dalam dirinya dan tanpa kenaifan mereka menjadi rapuh akan kebencian. Luka dan kebencian seringkali menutup fikiran seseorang dari kemungkinan melihat hal-hal baik dalam dirinya atau dari dunia di sekelilingnya. Ada banyak kisah yang menceritakan keberanian seseorang menghadapi aral rintangan, namun hanya sedikit yang percaya bahwa kenaifan bisa membuatmu seorang pemberani sekaligus mendapatkan hikmah dari setiap aral rintangan.
Aku bukan seorang pemberani bukan pula seorang kuat dan mandiri, sama seperti lainnya aku lemah dan rapuh. Namun tak sedikit orang yang menganggapku cukup kuat dan brani. Tidak ! aku hanya seorang naïf yang suka menjadi naïf dan tetap awas dengan sekelilingku. Aku banyak melihat hal buruk terjadi di sekelilingku namun aku tetap percaya pada hal-hal baik yang telah di fitrahkan Tuhan bagi setiap manusia dan makhluk ciptaannya. Sebagaimana Tuhan telah menyematkan hal-hal baik di dalam diriku maka begitu pula berlaku bagi setiap orang dalam kondisi seburuk apapun.sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa hal-hal baik akan selalu menang melawan segala sesuatu yang buruk, jika kita percaya.
Tidak ada yang salah dan benar. Yang ada adalah baik dan buruk dan hanya hati yang bisa mengenalinya. Dengarkan suara hatimu dan biarkan ia menuntunmu menemukan siapa sesungguhnya dirimu, di sanalah Tuhan mu berada !
Banyak konsep yang menyatakan diri manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, namun sempurna tak berarti bahwa kita lebih baik dari hewan, dari alam , dari tumbuh-tumbuhan. Seringkali binatang bisa lebih bermartabat dan lebih manusiawi dari manusia itu sendiri. Kita menjadi sempurna ketika kita sanggup mengatasi kesombongan kita sebagai manusia. Sejajarkan diri kita dengan matahari, dengan burung weliwis, dengan ayam, dengan sungai yang mengalir, dengan dedaunan yang terlepas dari rantingnya, dengan serbuk sari yang bertemu putik, dengan bebatuan, dengan angin, dengan tikus, dengan cacing. Cintai dan hargai mereka sebagaimana kita ingin di cintai dan di hargai. Bukankah cinta matahari tak bersyarat? Ia tetap hadir di setiap pagi yang putih, menghangatkun tubuh kita dan menyambut setiap orang yang bergegas memburu waktu, sekalipun manusia seringkali bertingakah buruk. Bahkan manusia seringkali merasa sombong atas makhluk Tuhan yang gaib. Bukankah Tuhan telah menyediakan kehidupan bagi setiap makhluknya?
Tuhan dan kehidupan ada di di dalam dirimu. Ketika hatimu menemukan mereka maka semesta alam akan menyambutmu penuh suka cita.