What do i think about “Anak Bandel”
Uncategorized May 1st, 2008
Melihat kebandelan anak-anak ini
mengingatkanku pada masa-masa remajaku dulu. Aku tak lebih penurut dari mereka,
bisa jadi aku lebih keras kepala dan pembangkang. Itu sebabnya ketika orang
dewasa lainnya meminta aku menasehati anak mereka aku lebih tak mau ikut turut
campur karena aku merasa lebih bisa memahami apa yang ada di kepala mereka dan
mengerti gejolak mereka unutk memahami sesuatu yang sulit di mengerti dan di
cerna oleh orang dewasa dan dunia yang njelimet ini.
Anak-anak ini tak butuh nasihat
yang hanya akan membuat telinga mereka mendengung-dengung dan memproduksi lebih
banyak tai kuping. Mereka juga tak butuh di ingatkan bagaimana orangtua mereka
mencintai dan berkorban harta/tenaga/waktu dll demi mereka, itu hanya akan
membuat harga diri anak-anak makin ciut dan merasa bersalah. Apalagi cacian dan
teriakan tentang betapa buruk sikap mereka, itu hanya akan membuat mereka
semakin menarik diri.
Anak-anak tak sepintar orang
dewasa dalam memahami dan mengkomunikasikan perasaan mereka, bahkan kadang
orang deasa sekalipun masih buta soal perasaan. Apa yang mereka lakukan dengan
‘kebandelan’ mereka sebenarnya sudah cukup menggambarkan perasaan dan keinginan
mereka. Itu cara mereka menuntut sesuatu dari para orang dewasa yang selalu
tampak lebih jago dalam memahami dunia yang aneh ini. Itu salah satu cara
mereka menerjemahkan perasaan mereka yang tak mereka temukan definisinya dalam
kamus bahasa.
Padahal, bagiku kebandelan
anak-anak ini adalah cermin kepolosan dan ketulusan, wajah ceria dunia yang
sebenarnya. Sebuah keterlepasan dari tuntutan manusia yang duniawi. Bahwa kamu
harus sekolah, harus pintar, harus berprestasi agar masa depan mu lebih baik.
Itu racun!
Bukankah rentetan keharusan itu
hanya belenggu bagi jiwa-jiwa yang polos ini, bahwa jika mereka tak sekolah dan
tak berprestasi maka masa depan mereka akan suram?
Anak-anak seharusnya bebas dan
bahagia, bukannya menjadi tong sampah di mana para orang tua melampiaskan
kerisauan dan ketakutannya akan dunia. Anak-anak seharusnya tersenyum lepas dan
menghirup udara sejuk, bukannya di paksa bernafas lewat dunia yang sangat
material ini. Sesuatu atas nama cinta yang kemudian merenggut kesakralan masa
kanak-kanak.
Itu kenapa aku tak mau menasihati
mereka dan berlagak sok lebih tahu tentang hidup. Aku sendiri bahkan tak pernah
berfikir bahwa aku cukup dewasa untuk bisa menhakimi tentang mana yang benar
dan salah. Bagiku cukup menyenangkan
menjadi kanak-kanak, mereka lebih berani dan lebih spontan menghadapi dunia dan
tak mau menyerah pada kemandegan.
Jadi, aku cukup jadi teman kalian
saja, kalian tak perlu setuju dengan pemikiran dan kata-kataku, kalian boleh
memperolok-olokku juga, toh orang dewasa tak lebih cerdas dari kalian. Kalian
adalah bukti kecerdasan lahir yang murni dan polos bukan kecerdasan yang telah
sedemikian rupa di set dan di kotak-kotakkan oleh manusia.
Untuk Hanna, Hifdzan, Indah dan
anak-anak lainnya…
Be yourself and happy !
About