Rumah Soboman
Jogja March 29th, 2008
Aku Cuma mengangguk dan sedikit
deg-degan menunggu pertanyaan berikutnya yang ku tahu pasti apa
“ mbak nya seniman apa?”
Tuh kan bener, pertanyaannya
pasti itu. Sulit ku jawab
“saya penulis mbak.” Sedikit
menelan ludah aku menjawab.
Rumah ini orang taunya rumah
seniman, dan identitas benar-benar di pertanyakan,
“siapa kamu?” adalah pertanyaan paling sering terlontar
dari orang-orang yang kutemui yang biasanya juga seniman, jika bukan pematung,
perupa, tukang tattoo, penyair, pemusik, maka artist teater atau performer lah
jawabannya. Awalnya sulit untuk
menjawab, bilang blogger maka tak semua orang mengerti maka ku jawab saja
penulis.butuh rasa percaya diri yang luar biasa untuk menjawab, tak satu pun
buku yang di terbitkan atas namaku, tapi aku berani mengatakan aku adalah
seorang penulis. Mungkin tak banyak orang mengenal namaku selain mereka para post abortus yang membaca artikel-artikel ku di website atau blog atau
teman-teman yang pernah membaca artikel dan puisi-puisiku. Namun pastinya, aku
lebih sering menulis dengan pikiranku daripada jariku, dan semesta sekitarku
adalah lembaran-lembaran kertasnya.
Rumah ini sangat menyenangkan,
seperti berada di “ time not existing” kalo meminjam istilah rino, ya di sini
sepertinya umur dan waktu tak pernah jadi masalah, semuanya hampir sama saja,
tak ada aturan dan tak ada batasan untuk umum, sepertinya semua orang telah
memahami itu dan hanya menerapkan batasan-batasan untuk dirinya sendiri.

Setiap hari selalu ada pesta,
jika nino berpesta dengan patungnya, codet dengan lukisan-lukisannya, yoyo jewe
dengan puisi-puisinya di sofa coklat cerewet, maka aku menulis dengan laptopku
di atas meja bundar berputar di kebun belakang rumah. Atau sesekali kami
mengundang teman untuk mengangkat gelas bersama, bahkan kemarin sore kami
berendam di atas bak mandi karet warna-warni dan memandikan tubuh kami bersama
anjing dan kucing kesayangan kami. Surga kecil, aku menyebutnya.
Aku bukan hippies mama, hanya
pintar bersenang-senang saja. Begitu kataku setiap kali mama mengomentariku
yang katanya gaya hidupku seperti seorang hippies.
Aku juga bukannya tak punya
masalah, tapi di sini tak ada kesempatan untuk meributkan hal-hal kecil. Kami
lebih suka fokus pada kegembiraan dan meanings daripada jadi pusing sendiri.
kebahagiaan itu datang dari hati bukan dari luar. Mungkin kesamaan kami semua
adalah kesulitan masalah uang tapi kami tak pernah mengeluh dan tak merubah
raut muka kami, segala sesuatu ada jalannya.
“ Rumah bersepeda “ begitu ibu
indah, penjual nasi pecel menyebutnya. Banyak orang datang dengan sepeda ke
rumah ini dan kami pun punya sepeda. Parkir depan rumah kami selalu ada sepeda,
ada sepeda onthel, ada sepeda rakitan sendiri bahkan beberapa teman membawa
sepeda super tinggi.
Kami bersepeda selain karena tak
punya uang juga karena kami memilih untuk mencintai kendaraan bebas polusi ini,
kendaraan yang membuat kami lebih sehat dan berkeringat. Ini adalah impianku
sejak lama, naik sepeda onthel di pedesaan, mengelilingi sawah sambil
bersenandung riang. Mungkin begitu juga kenikmatan bersepeda bagi yang lain.
Memang lebih lelah tapi aku jadi lebih menghargai waktu dan jarak, terutama
tubuhku sendiri.
Bahkan anjing dan kucing pun
hidup rukun di rumah kami, kucing kecilku; yin dan yang di asuh oleh anjing
codet yang super manis; mocca. Betapa menyenangkan melihat mereka saling
berkasih sayang. Kenapa manusia tak bisa rukun seperti mereka ya?
Ah, rumah ini adalah rumah yang
kan selalu ku kenang dengan kegembiraannya, tak hanya bagiku dan penghuni rumah
lainnya tapi juga bagi setiap tamu yang datang ke rumah ini. Bukan begitu
piero? Rino? Jaro? Bahkan kalian pun jatuh cinta dengan rumah yang katanya berhantu
ini.
Hahaha…tidak apa-apa di sini
hantu dan manusia pun berdamai, tak ada yang saling mengganggu.
Terimakasih rumah soboman.
About
hey… interesting life di “rumah seniman”
iya gue relate bgt dgn menyandang identitas penulis walaupun belum terbitin buku… eniwei at least lu uda one step di dpn gw dgn mempunyai blog2 dgn tema spesifik… gak kayak gw yg masi nulis seenak udel… hwehehe…
pertengahan mei gw mau ke jogja “on incognito” bwt menghadiri graduation temen gw… sshh… it’s supposed to be a surprise! hehe… boleh ya gw mampir ke rumah & sanggar seni kalian…
peace & jaya truz, ok!