Pulang Kampung (Part I)
Jogja December 1st, 2007
Setelah 3 bulan berlalu akhirnya
aku kembali menginjakkan kaki di kota kesayanganku, Jogjakarta. Tiba pukul 6
pagi hari setelah selama 9 jam lebih
berada di kereta senja utama yang berangkat dari stasiun jatinegara, Jakarta
timur.
Tiba di sana, gernandi sudah
menungguku. Dan seperti biasanya kami minum kopi bersama di kedai twins donut,
sebuah ritual setiap kali tiba di jogja melalui rute kereta. Selama 2 jam kami
duduk di sana bercerita tentang banyak hal, segala sesuatu yang tak sempat kami
bagi semenjak pertemuan terakhir kami di jalan jaksa.
Setiap kali menginjakkan kaki di
kota ini setiap kali itu pulalah aku merasakan getaran yang sama akan kecintaan
terhadap kota budaya ini. Meskipun hanya tujuh tahun aku menetap di kota ini,
namun waktu sesingkat itu sudah cukup membuatku merasa tergila-gila dengan
suasana kota nya yang santai, tenang, dan nyaman. Kota ini memang jauh dari
keramaian dan hiruk pikuk metropolitan, bahkan tak ada kendaraan umum yang
beroperasi di malam hari selain taksi dan ojek. Biar begitu kota ini tetap
punya pesona yang memikat luar biasanya dengan budaya dan seninya. Jika anda
seorang seniman, maka kota ini akan menjadi soul mate anda !
Jauh hari sebelum berangkat ke
Jogjakarta, aku sudah menyiapkan rencana untuk mengunjungi berbagai tempat favorit dan bernostalgia dengan teman-teman
lama. Rasanya bukan pulang kampung jika haya pulang begitu saja tanpa menikmati
tempat2 dan makanan terbaik di kota ini.
Wirabuana 2. Sebenarnya ini
adalah alamat tempat aku tinggal di Jogjakarta selama 5 tahun. Selama itu aku
kos di tempat Bu aris yang sudah ku anggap seperti orangtua kandungku sendiri.
Tempat ini istimewa karena ketika berada di sinilah aku banyak di tempa oleh
berbagai masalah, dari mulai putus cinta dengan rasa rendah diri yang besar,
terlibat alhohol, gagal kuliah dll. Kamar ke-3 di lantai pertama yang langsung
menghadap sebuah pohon jambu monyet adalah saksi betapa banyak amarah dan
tangisan telah tertumpah di sana. Kamar kecil berukuran 2.5mx3.5m adalah rumah
kecil yang telah menyatu denganku. Di ruang kecil itulah aku benar-benar
memiliki kehidupanku sendiri, the real one not the fake ! bahkan dindingnya
yang telah berjamur itu seakan marah dan menunjukkan rasa bosannya padaku.
Jika bukan karena Ibu kos yang
begitu sabar dan mengemong, mungkin aku tidak akan pernah cukup lama bertahan
dalam menghadapi berbagai permasalahan hidupku. Aku begitu menghormati dan
menghargai beliau yang telah menerimaku apa adanya sekalipun mengerti bahwa aku
bukan anak baik-baik. Beliau telah menerima dan menganggapku sebagai bagian
dari keluarganya, bahakan aku pun turut merasakan kasih nya sebagai seorang
Ibu. Puji syukur tuhan akan kasih yang kau berikan lewat tangan beliau.
Selama hidup di jogja adalah
sebuah neraka bagiku, dan wirabuana 2 adalah satu-satunya penenang hati
sekaligus rumah yang paling aman untukku.
Coffee Break. Adalah sebuah
coffee shop kecil yang memiliki banyak koleksi buku. Terletak di jalan
kaliurang yang hanya berjarak kurang lebih satu kilo dari tempat kosku.
Pemiliknya adalah sepasang kekasih yang telah berpacaran semenjak di bangku
SMP, hal yang paling tampak jelas menyatukan mereka adalah sikap smart nya dan
kecintaannya pada buku. Waitress dan
waiter yang bekerja di sana adalah para mahasiswa sekaligus teman-teman dekat.
Itulah sebabnya ketika datang ke tempat ini suasananya selalu hangat dan
rame. Hal yang paling kuingat dari
coffee break adalah mas nana, salah satu pemilik coffee shop yang sangat
hangat, ramah dan terbuka pada semua customernya. Mungkin itulah hal pertama
yang membuat para customer betah dan merasa nyaman di sana. Bahkan tidak
sedikit teman-teman perempuanku yang menyukainya karena pembawaannya yang kalem
itu.
Biasanya aku ke coffee break
sendiri , bersama debbi atau bahkan rame-rame dengan teman-temanku. Terutama
aku dan sahabatku debbi, biasanya kami meluangkan waktu sekali dalam seminggu
untuk minum kopi di sana sembari berbagi cerita selama seminggu penuh saat kami
tak sempat berjumpa. Its Ladies Nite ! Kami biasanya berjalan kaki menyusuri jalan kaliurang yang ramai oleh lalu lalang
para mahasiswa yang sedang mencari makan malam, dan ketika pulang biasanya
jalanan sudah sangat sepi hingga kami bisa berlarian di tengah jalanan sambil
menari-nari dan menyanyi. Jika sendiri, aku lebih senang naik sepeda sambil
bersenandung ria, biasanya dengan celana pendek dan tas kecil. It’s fun !
Selain bersama temanku sendiri,
aku pun banyak memiliki teman baru di sana. Teman-teman yang kemudian menjelma
menjadi sahabat ini Berasal dari
berbagai daerah dan latar belakan pendidikan dan social yang berbeda, mungkin
itulah yang membuat ranah persahabatan kami jauh lebih hiruk pikuk, dan yang
paling menyenangkan adalah mereka ( bagi saya ) adalah orang-orang smart yang
punya kepedulian social yang besar.
Seringkali kami berdiskusi selama berjam-jam hanya berbicara mengenai politik,
pendidikan, masalah social, buku, tokoh atau bahkan hanya sekedar main kartu gaple tanpa lampu. Mereka adalah orang-orang yang sangat menyenangkan,
terimakasih atas kehangatan dan persahabatan kalian.
Btw, jangan lupa 1 Ice Cappucinno
dan choco pie. Plus Yoghurtnya ya. Hahahaha……….
Alun-alun kidul. Sebenarnya
tempat ini adalah tempat kumpulnya geng tasik semasa awal kuliah dulu, ketika
kami masih culun-culunnya. Ketika si iya masih senang memakai celana
kotak-kotak nya yang ngejreng itu, hahaha…..biasanya setiap malam minggu kami
ber-8 ( Aku, iya, Ayi, Ana, didin, Cecep, Hardi dan Andi ) konvoi motor
berkeliling kota jogja di malam hari dan biasanya kami selalu menyempatkan
waktu nongkrong di alun-alun kidul sambil berkelakar. Jika kami ber-8 sudah
berkumpul ramenya minta ampun hingga seringkali di tegur oleh Ibu kos, Yup.
Memang tidak ada satupun diantara kami yang bias bersikap dewasa jika sudah
bercanda, kami semua selalu kekanak-kanakan bahkan hingga kini. Tapi justru
itulah yang membuat persahabatan kami makin erat hingga kini. Tidak di sangka
bahwa meskipun kami saling menyimpan kesal atas kelakuan dan tabiat
masing-masing namun kami tetap bias bersahabat baik hingga hari ini. Satu lagi
karunia besar tuhan bagi Ku.
Via-Via. Hmmm…this is my fave
café in Jogja. Sebenarnya via-via adalah sebuah joker traveler café yang
tersebar di 12 negara di dunia, di Indonesia kebetulan berada di
jl.Prawirotaman Jogjakarta. Pemiliknya adalah orang belgia. Selain bias
menikmati makanannya yang enak-enak kita juga bisa mencari informasi perjalanan
wisata di tempat ini, Yup karena para customer café ini adalah bule-bule yang
sering travelling around the world. Biasanya mereka berkumpul di sini untuk
saling berkenalan dan bertukar cerita mengenai pengalaman perjalanan mereka.
Jazz nite adalah moment favorit saya setiap jum’at malam di café ini. Biasanya
kita harus memesan tempat lebih dulu jika ingin mendapat tempat yang enak
karena saking ramenya. Inilah malam puncak keramaian di Via-Via. Saying sekali
masih jarang orang Indonesia yang nongkrong di tempat ini kecuali mereka para
tourist guide atau para seniman karena memang biasanya para seniman ini sering
ikut memamerkan karyanya di tempat ini. Mungkin native people sudah terlebih
dulu berpraduga “Mahal dan Wah” dengan melihat para bule yang sering nongkrong
di sana. Namun memang via-via sendiri hanya terkenal di lingkungan yang sangat
terbatas yang memang segmentasinya.
Makanan favorit saya di tempat
ini adalah tempe goreng yang disajikan dengan saus …………..dan spaghetti ala
Via-via yang luar biasa enaknya ( menurut saya) dengan porsi nya yang bisa mengenyangkan 2 perut sekaligus.
Selain itu ada banyak menu eropa lainnya yang bisa di nikmati di sini
termasuk berbagai jenis wine dan beer.
Bersambung…
About