Obrolan Pagi

Sampah ! September 4th, 2007

Selasa pagi.

Selama setengah jam aku duduk
bersama seorang ibu dan bapak tua sembari menunggu kantor UT buka. Pagi yang
cerah tiba-tiba jadi suram dengan perbincangan mengenai semrawutnya kota
Jakarta. Si ibu yang merupakan salah seorang pegawai di Pemda Jakarta bercerita
tentang dana sosialisasi pemerintahan yang di kurangi oleh kegubernuran untuk
menutupi dana kampanye Gubernur baru kemarin, belum lagi mengenai wartawan
“amplop” yang sering memeras orang-orang pemerintahan untuk menutupi kasus
mereka. Dengan bibirnya yang monyong si Ibu terus menggerutu tentang kota
Jakarta yang mata duitan dan penuh korupsi. Si bapak tua menanggapinya dengan
cerita yang sama tentang bagaimana Kantor Pos berselisih dengan UT karena dana
mahasiswa yang di kirim melalui kantor pos ternyata tidak di setorkan ke UT
Pusat sehingga pihak UT berselisih dengan mahasiswa. Masih banyak cerita kota
Jakarta yang terus memekakan telingaku. Aku hanya terdiam mendengarkan keduanya
berceloteh tentang Jakarta. Aih, Jakarta…

Telingaku dalam keadaan auto
pilot ketika fikiranku melayang pada suatu pagi yang cerah dengan matahari
merah yang tersembul di ujung langit…aku memimpikan secangkir kopi hangat dan
sebatang rokok di tanganku….ada bentangan laut luas berwarna biru yang menenangkan
kedua pelupuk mataku…

Ah, aku lebih suka pagi dalam
dunia khayalku sendiri daripada harus bersedih mendengar keluh kesah tentang
Jakarta….

Pembebasan

Me Myself & Ina, PAS September 4th, 2007

Setelah menunggu cukup lama,
akhirnya aku menemukan keberanianku malam tadi. Selama 3 tahun aku
menyembunyikan sekaligus menutup-nutupi kebenaran yang seharusnya di ketahui
kedua belah pihak keluarga aku dan bram.

 

Bukan karena aku merasa telah
siap ataupun telah menemukan ketegaran yang luar biasa, namun keberanianku
muncul sebagai suatu bentuk mekanisme perlawanan terhadap memori yang
terus-menerus menghantui dan menjadi kerikil yang menghambat proses
pemulihanku.

 

Akhirnya semalam tadi aku
memberanikan diri menelpon keluarga bram. Setelah beberapa kali terhenyak
mendengar suara di sebrang telpon, dengan mengucap bismillah akupun mengucapkan
kata sapa yang pelan dan ringkih.

 

Aku sudah tidak peduli lagi pada
penolakan dan konsekuensi terburuk yang
mungkin akan terjadi. Aku hanya ingin memastikan bahwa keluarga bram perlu tahu
cerita sebenarnya dan turut andil dalam proses pemulihanku. Keluarga bram harus
mendengar kebenaran dariku meskipun itu pahit dan menerima kenyataan ini
sebagaimana keluargaku harus menanggung beban yang sama akibat semua ini.

 

Aku tidak meminta pertanggung
jawaban, tidak juga nominal yang seharusnya menjadi hakku. Aku hanya ingin
kebenaran ini tersampaikan. Aku hanya ingin merasa lega dan meringankan langkah
kakiku.

 

Di luar dugaanku, Ayah bram
sangat mengerti keadaanku. Beliau ,mendengarkanku dengan seksama. Meskipun aku
yakin jauh dalam hatinya ia merasakan kekecewaan namun ia telah mampu
mengendalikan diri dan emosinya dengan bersikap bijak. Beliau memberiku petuah yang
membuatku merasa tenang. Beliau juga berjanji akan mencoba membicarakan hal ini
dengan bram, namun aku meyakinkannya bahwa aku tidak lagi mengharap apapun
selain hanya sekedar melepas beban ini. Beliau memintaku untuk tetap sabar dan
tegar melalui semua ini dan mendo’akan keberhasilanku.

 

Ada satu hal yang baru kusadari,
sesuatu yang selama ini membuatku kosong tanpa kusadari. Selama proses
pemulihanku aku tidak pernah membicarakan permasalahanku dengan seorang tokoh
“bapak”, aku banyak mengkomunikasikannya dengan keluargaku yang perempuan,
bahkan dengan kakak lelakiku pun aku tidak menemukan kemungkinan untuk
membahasnya dengan cara yang sesuai. Sejak 5 tahun yang lalu aku telah
kehilangan sosok Ayah, dan proses pengasuhanku dalam memasuki tahap kedewasaan
banyak di pengaruhi oleh para perempuan di keluargaku.

 

Setelah aku berbicara dengan Ayah
bram tiba-tiba kekosonganku akan sosok ayah menjadi terobati. Mungkin aku bisa
menyebutnya sebagai salah satu tahap pemulihan yang cukup berperan penting.
Dalam hitungan menit selama berbicara dengan Ayah bram tiba-tiba aku merasakan
rasa aman dan terlindungi yang membuatku jauh lebih tenang.

 

Kini aku bisa berlapang dada dan
berjiwa besar, karena selain mendapat dukungan dari keluargaku, aku juga
mendapat dukungan dari pihak ayah bram yang bisa berfungsi sebagai tokoh ayah
bagiku.

 

Aku merasa lebih ringan dalam
melangkahkan kakiku. Dan hatiku jauh lebih lega karena aku telah mendapatkan sosok
pengasuhan yang kubutuhkan.

Antagonis or…

Me Myself & Ina, PAS September 4th, 2007

Dalam sebuah penokohan aku bukan
karakter antagonis ataupun protagonist. Aku adalah tokoh yang mempunyai
karakter keduanya secara bersamaan. Pengalaman buruk dan semua konsekuensi yang
aku terima telah memberiku pencerahan dalam menemukan kesadaran atas makna
kehidupanku dan seberapa penting jati diriku yang sebenarnya ikut berperan
dalam membangun citra diri yang lebih baik. Hal ini menumbuhkan rasa butuh
terhadap perilaku diri yang lebih sadar, menginginkan keterlepasan dari trauma
dan amarah yang membelenggu. Aku percaya bahwa dengan melepaskan amarah dan
luka adalah suatu bentuk penemuan rasa damai yang di butuhkan setiap orang.

 

Namun di bawah alam sadarku ada
sesuatu yang terus bergejolak untuk muncul ke permukaan. Walaubagaimanapun juga
ego diri tetap ada dan menuntut untuk di dengarkan. Meskipun secara rasional
aku di tuntut untuk menimbang setiap tindakan, namun alam bawah sadarku tetap meminta
agar ego-ku punya posisi yang tetap terhormat. Apapun itu ego-ku ingin
memastikan bahwa setiap orang yang pernah memperlakukanku secara buruk harus
tetap membayar harga atas perbuatan mereka.

Aku melalui masa pemikiran yang
cukup alot untuk dapat menemukan titik temu antar hasil pemikiran otakku dengan
hatiku tanpa mengesampingkan tuntutan egoku.

 

Bagaimanakah caranya memberi
pelajaran pada mereka yang telah merendahkanku sedemikian rupa, memastikan
mereka membayar dengan hal yang setimpal namun tetap dengan cara yang “
semanis” mungkin?

 

Bagaimanakah cara menumpahkan
darah tanpa melibatkan tangan kita dan memastikannya tetap bersih?