Setelah menunggu cukup lama,
akhirnya aku menemukan keberanianku malam tadi. Selama 3 tahun aku
menyembunyikan sekaligus menutup-nutupi kebenaran yang seharusnya di ketahui
kedua belah pihak keluarga aku dan bram.
Bukan karena aku merasa telah
siap ataupun telah menemukan ketegaran yang luar biasa, namun keberanianku
muncul sebagai suatu bentuk mekanisme perlawanan terhadap memori yang
terus-menerus menghantui dan menjadi kerikil yang menghambat proses
pemulihanku.
Akhirnya semalam tadi aku
memberanikan diri menelpon keluarga bram. Setelah beberapa kali terhenyak
mendengar suara di sebrang telpon, dengan mengucap bismillah akupun mengucapkan
kata sapa yang pelan dan ringkih.
Aku sudah tidak peduli lagi pada
penolakan dan konsekuensi terburuk yang
mungkin akan terjadi. Aku hanya ingin memastikan bahwa keluarga bram perlu tahu
cerita sebenarnya dan turut andil dalam proses pemulihanku. Keluarga bram harus
mendengar kebenaran dariku meskipun itu pahit dan menerima kenyataan ini
sebagaimana keluargaku harus menanggung beban yang sama akibat semua ini.
Aku tidak meminta pertanggung
jawaban, tidak juga nominal yang seharusnya menjadi hakku. Aku hanya ingin
kebenaran ini tersampaikan. Aku hanya ingin merasa lega dan meringankan langkah
kakiku.
Di luar dugaanku, Ayah bram
sangat mengerti keadaanku. Beliau ,mendengarkanku dengan seksama. Meskipun aku
yakin jauh dalam hatinya ia merasakan kekecewaan namun ia telah mampu
mengendalikan diri dan emosinya dengan bersikap bijak. Beliau memberiku petuah yang
membuatku merasa tenang. Beliau juga berjanji akan mencoba membicarakan hal ini
dengan bram, namun aku meyakinkannya bahwa aku tidak lagi mengharap apapun
selain hanya sekedar melepas beban ini. Beliau memintaku untuk tetap sabar dan
tegar melalui semua ini dan mendo’akan keberhasilanku.
Ada satu hal yang baru kusadari,
sesuatu yang selama ini membuatku kosong tanpa kusadari. Selama proses
pemulihanku aku tidak pernah membicarakan permasalahanku dengan seorang tokoh
“bapak”, aku banyak mengkomunikasikannya dengan keluargaku yang perempuan,
bahkan dengan kakak lelakiku pun aku tidak menemukan kemungkinan untuk
membahasnya dengan cara yang sesuai. Sejak 5 tahun yang lalu aku telah
kehilangan sosok Ayah, dan proses pengasuhanku dalam memasuki tahap kedewasaan
banyak di pengaruhi oleh para perempuan di keluargaku.
Setelah aku berbicara dengan Ayah
bram tiba-tiba kekosonganku akan sosok ayah menjadi terobati. Mungkin aku bisa
menyebutnya sebagai salah satu tahap pemulihan yang cukup berperan penting.
Dalam hitungan menit selama berbicara dengan Ayah bram tiba-tiba aku merasakan
rasa aman dan terlindungi yang membuatku jauh lebih tenang.
Kini aku bisa berlapang dada dan
berjiwa besar, karena selain mendapat dukungan dari keluargaku, aku juga
mendapat dukungan dari pihak ayah bram yang bisa berfungsi sebagai tokoh ayah
bagiku.
Aku merasa lebih ringan dalam
melangkahkan kakiku. Dan hatiku jauh lebih lega karena aku telah mendapatkan sosok
pengasuhan yang kubutuhkan.