Far away from home

Me Myself & Ina August 18th, 2007

Hari ini tepat sebulan aku meninggalkan Jogja
Gak berasa selama itu pula aku melalui masa-masa menakjubkan bersama keluargaku
Suatu hal yang sangat asing dan terasa aneh bagiku
Ya, karena aku memang tidak terbiasa dekat dengan lingkungan keluargaku
Apalagi dengan keadaanku sekarang yang jelas-jelas minus di bawah nilai norma dan keyakinan yang di pegang teguh oleh keluargaku.

Sejak kecil aku terbiasa tinggal dengan kedua orangtuaku dan seorang adik perempuanku, saudara-saudara ku yang lain sudah lama meninggalkan rumah untuk studi dan bekerja
Jadi, aku hanya mengenal mereka dari cerita kedua orangtuaku dan bertemu mereka beberapa hari selama setahun…

Ketika SMP aku pun sudah mulai meninggalkan rumah untuk menempuh studi di sebuah pesantren di Garut, Jawa Barat. Hingga akhirnya barulah ketika aku menginjak SMA akupun ke kembali ke rumah, namun pada saat itu adik perempuanku justru meninggalkan kami untuk menempuh studi di pesantren yang sama denganku. Aku, ibu dan bapakku tinggal bertiga di sebuah rumah yang lumayan tidak kecil ditemani beberapa orang pembantu. Rumah yang sangat sepi….

Aku bisa mengatakan bahwa keluarga kami adalah keluarga yang sangat kaku.
Orang luar melihat kami sebagai keluarga yang sempurna, namun aku sendiri tidak merasa demikian. Jika melihat dari nilai norma dan keyakinan yang kami anut, kami mungkin bisa menjadi contoh bagi keluarga lainnnya agar menjadi keluarga sakinah, tampak luarnya memang begitu. Semenjak kecil kami terbiasa berbicara satu sama lain dan meilai satu sama lain berdasarkan norma dan keyakinan yang kami anut. Jarang sekali kami bisa berbicara dengan bahasa cinta kasih yang seharusnya menjadi penopang keluarga. Itulah mengapa kami jarang sekali berbicara tentang perasaan kami dan lebih banyak membahas segala sesuatu yang klise. Ketika ada seseorang di antara kami bermasalah, kami terbiasa segera berkumpul untuk bermusyawarah mencari penyelesaian yang tepat. Namun jarang sekali kami menanyakan perasaan yang bersangkutan. “ apakah kamu sedih ?” atau “ apakah kamu bahagia?” atau sekedar menunjukkan empati dengan mengatakan “ aku mengerti perasaanmu.”

Ya, mungkin bagi beberapa orang hal itu hanya sebuah pertanyaan kecil yang gak terlalu penting, toh dengan melihat raut mukanya saja seharusnya kita tahu apa yang di rasakan oleh seseorang. Tapi tidak, bagiku pertanyaan kecil itu bisa menjadi berarti begitu besar bagi seseorang, karena pertanyaan atau pernyataan kecil seperti itu menunjukkan bahwa kita peduli akan perasaannya sebagai manusia dan hal itu akan sangat membantu untuk memulihkan perasaan yang terluka.

Aku mungkin paling berbeda di antara keluargaku yang lain. Walaupun aku tampak kuat dan tegar daripada yang lainnya, sebenarnya aku adalah orang yang sangat sensitif dan rapuh. Semenjak kecil aku menyadari bahwa kasih sayang dan perhatian adalah sesuatu yang sangat aku butuhkan dalam proses kehidupan. Ketika aku tidak mendapatkan apa yang aku butuhkan maka aku membangun benteng pertahanan menjadi orang yang tampak kuat dan tegar. Karena itu pulalah aku selalu menghindar dan semakin menjauh dari keluargaku. Aku tidak ingin kecewa dengan tidak mendapatkan apa yang aku butuhkan dari keluargaku.

Maka, ketika kuliah akupun nekad meninggalkan rumah. Hanya satu tujuanku, ingin jauh dari keluarga. Aku pun pergi ke Jogja.

Apa yang terjadi dalam kurun waktu 7 tahun aku di Jogja ?
1 kali menjadi mahasiswa terbaik
2 kali aku gagal dalam menempuh kuliah di perguruan tinggi swasta di Jogjakarta
5 kali aku opname di berbagai rumah sakit
3 kali mengikuti terapi dengan psikiater
aku juga mengikuti berbagai kegiatan berkesenian di Jogja, aktif menulis dan menjadi manajer band local serta mengikuti berbagai seminar dan lomba jurnalistik.
Dan puncaknya adalah 1x melakukan aborsi ….

Kurun waktu 7 tahun di jogja adalah masa-masa terbaikku dalam usaha pencarian jati diri sekaligus masa titik terendah kehidupanku karena mengalami post-abortion syndrome..masa yang di penuhi dengan gelak tawa dan diakhiri derai tangis yang membahana…

Ketika sampai pada titik dimana aku tidak sanggup lagi meneruskan kehidupanku, akhirnya aku memilih untuk pulang pada keluarga, sebuah pilihan yang menakutkan dan tidak pernah terbersit di fikiranku.

Namun akhirnya aku membuat pilihan yang membuat keluarga kaget : sebuah pengakuan post-abortion dan kembali ke keluarga tanpa mengenakan jilbab.

Sebagian membenciku karena itu tapi mereka tak punya pilihan selain menerimaku kembali dan menerima keputusanku. Aku bisa  melihat kekecewaan di mata mereka dan juga berbagai pertanyaan yang hanya terendap dalam kepala mereka.

Perjalananku di mulai sebulan yang lalu ketika aku singgah di kota bandung dan bertemu dengan kakak perempuanku. Aku tinggal bersamanya selama seminggu, dalam waktu itulah aku akhirnya mengenal siapa kakakku sebenarnya, aku mulai membuka diriku dan menyiapkan mental untuk menerima penolakan yang terburuk. Sebelum aku pergi menuju Jakarta, ia berpesan :

“ Na, kalau kamu mau menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, jangan setengah-setengah. Tunjukkan di depan keluarga dan buktikan kalo kamu bisa lebih baik. “

Itulah kata-kata yang menguatkan tekadku.

Semenjak itulah aku mengunjungi saudara-saudaraku yang lainnya dengan tampil apa adanya. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk bisa menerima penolakan dan kemungkinan terburuk lainnya.

Aku mungkin adalah ujian keimanan bagi keluargaku. Keluargaku sangat keras dan fanatic dalam beragama, terkadang mereka melihat orang yang tidak seperti mereka dengan cara yang sinis. Sekarang mereka harus menerima bahwa olok-olokan yang biasa mereka lontarkan pada orang lain terjadi pada keluarga mereka sendiri. Mungkin mereka menelan ludah mereka dalam-dalam. Kakak perempuanku dan semua perempuan di keluarga besar kami menggunakan jilbab dan busana muslim yang sangat tertutup, sekarang mereka harus menerima keadaanku yang seperti ini. Ketika aku berjalan-jalan dengan mereka dan bertemu dengan teman mereka, biasanya mereka akan menyembunyikanku. Namun kini mereka di uji untuk berani memperkenalkanku. Aku sempat tersenyum melihat tatapan mata seorang ibu yang merupakan relasi kakakku, waktu itu kami di Tamini dan kakakku memperkenalkanku sebagai adiknya. Ibu itu tampak kaget dan menatapku lama, Ya ia mungkin kaget melihat perbedaan kami, kakak ku yang tampak alim dengan jilbabnya dan aku yang tomboy dengan celana pendek dan kepala plontos. Tapi ya itulah..di sanalah aku kemudian menjadi ujian bagi keluargaku.

Kini, aku bisa merasakan bahwa mukjizat tuhan sudah mulai bekerja. Ketika aku menunjukkan siapa diriku sebenarnya barulah aku bisa melihat kepedulian besar dari saudara-saudaraku yang lain.

Aku mungkin telah berdosa besar dan harus menanggung akibat dari perbuatanku. Namun keadaanku yang sekarang  telah membuat mata hati saudara-saudara ku menjadi terbuka dan lebih tergugah perasaannya. Ketika aku menunjukkan bahwa aku lemah, mereka makin tergugah untuk memperlihatkan dan menunjukkan kasih sayang mereka kepadaku.

Walaupun sebagian masih tetap menghujat dan menolakku, namun aku takkan mundur, aku yakin mukjizat tuhan takkan berhenti sampai di sini.

Aku teramat bersyukur, bahwa ketika aku tak lagi sempurna sebagai perempuan, keluarga ku menerimaku dengan cara yang luarbiasa. Tak ada yang menghakimiku. Walaupun tak ada yang bertanya tentang perasaanku, namun aku tahu sikap diam mereka adalah empati terbesar yang dapat mereka tunjukkan kepadaku.

Namun hingga hari ini, aku belum pulang ke pelukan Ibuku.
Aku akan pulang…sebentar lagi….