Apa yang membuat aku harus lama terpuruk
dalam keadaan yang lemah adalah karena ketidakmampuan diriku sendiri untuk bisa
menerima kenyataan yang tak sesuai dengan harapanku. Ketika aku tak lagi
menjadi sempurna sebagai perempuan aku masih saja berpengharapan bahwa kejadian
aborsi ku tidak pernah terjadi. Aku tetap berkeras hati untuk melampiaskan
semua amarah dan rasa bersalah dengan menunjukkan jari pada seseorang yang ikut
andil dalam proses tersebut. Aku tidak bisa melihat diriku sendiri sebagai
faktor terbesar yang mempengaruhi semakin buruknya gejala psikologisku.
Trauma akan aborsi yang menyakitkan telah
membuatku mengisolasi diri dan bertahan dengan melihat diriku sendiri sebagai
perempuan yang gagal. Aku memandang bahwa perempuan adalah perpanjangan tangan Tuhan
akan makhluk ciptaannya di muka bumi, dan ketika perempuan telah memutus
perpanjangan Tuhan maka ia telah gagal sebagai manusia.
Sekian
lama aku melihat diriku begitu kecil di mata perempuan lainnya terutama di mata
kaum ibu. Perasaan kecil inilah yang kemudian membuatku merasa tak berharga dan
tak punya arti. Aku menjadi begitu kosong dan hampa, aku menarik diri dari
lingkungan ku dan mengisolasi diri dalam gambaran dunia kecilku.
Aku
tidak dapat lagi melihat masa depanku dengan bentangan jalan yang luas. Aku
telah merasa bahwa apapun yang aku lakukan aku akan tetap selalu gagal karena
aku tak lagi punya arti di hadapan Tuhan. Perasaan berdosa telah
menenggelamkanku dalam gambaran maya bahwa apapun itu aku akan tetap gagal
sebagai bentuk hukuman Tuhan akan diriku.
Aku
selalu bisa menerima keterpurukanku sebagai bayaran atas kesalahanku, dan
begitu seterusnya aku merasa tak ada tempat bagi perempuan gagal seperti ku di
mata Tuhan. Karena tempat yang pantas akan kesalahan yang pernah ku perbuat
adalah seburuk-buruknya rasa sepi.
Aku
menerima segala kejadian buruk sebagai kompensasi perasaan bersalahku dan aku
terus membiarkan diriku menerima banyak kejadian buruk dengan berlapang dada.
Aku tidak akan melawan jika orang-orang sekitarku memberikan sikap yang buruk
karena aku merasa itulah yang pantas kudapatkan. Aku pun tak keberatan ketika
kepercayaan keluarga dan orang-orang di sekitarku semakin luntur, aku tetap
merasa pantas akan semuanya. Seorang perempuan yang gagal tentunya patut
mendapatkan hukuman dan keburukan yang setimpal.
Begitupun
ketika aku melihat kesempatan untuk perbaikan diri, seringkali aku
melewatkannya begitu saja karena aku merasa tak layak mendapatkannya. dan yang
terburuk adalah pikiranku sendiri bahwa semakin banyak aku menerima keburukan
maka akan setimpal dengan kesalahanku hingga suatu saat Tuhan akan benar-benar
mengampuniku.
Aku
telah menghakimi diriku sendiri melebihi perempuan yang telah kotor dan di
nistakan di mata Tuhan.
Selama
bertahun-tahun aku tetap memelihara amarah terhadap lelaki yang sama. Kebencian
itu pulalah yang semakin membutakanku untuk melihat langkah ke depan yang
semakin baik dan terbuka lebar untuk memulihkan diri.
Aku
masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana air mataku akan habis dalam semalam
setiap kali aku menemukan kesulitan, dan pada setiap saat itu pulalah aku
membiarkan diriku menyalahkan bram atas semua kejadian yang menimpaku. Aku
telah membiarkan bram mejadi pengaruh yang besar yang mengambil alih kuasa atas
kehidupanku sendiri. ketika segala sesuatunya berjalan baik maka aku akan puas
seakan aku mampu menjadi pribadi yang kuat, tapi aku sendiri tidak mampu
menerima kenyataan bahwa aku betul-betul lemah hingga setiap kali hal buruk
terjadi maka aku akan menjadikan bram sebagai orang yang berhutang atas segala
petaka yang terjadi dalam hidupku.
Aku
menghakimi bram selama bertahun-tahun atas sesuatu yang seharusnya dia tanggung
dan pada akhirnya menjadi tanggunganku. Aku merasa tidak bisa merelakan
penderitaan batin dan fisik yang harus ku lalui atas trauma aborsiku terdahulu.
Buah cinta yang di tanam secara bersama pada akhirnya harus mendiami rahimku
dan berkembang di sana. rasa mual ketika hamil, belum lagi rasa sakit luarbiasa
ketika aborsi harus aku tanggung sendiri. Tak Cuma itu, rasa sakit yang
berkepanjangan akibat aborsi yang tidak bersih telah membuatku menderita dalam
rasa sakit yang luar biasa selama bertahun-tahun. selama 2 tahun pertama aku telah di hantui
perasaan bersalah dan mimpi buruk berkepanjangan yang merenggut tidur lelapku.
Gelisah akan kondisi fisiku terus mengganggu fikiranku dan membuyarkan
konsentrasi pada kehidupanku. Aku telah rugi secara fisik dan psikis, dan juga
bangkrut secara finansial.
Aku
tidak bisa menerima kenyataan bahwa segala sesuatunya harus kutanggung sendiri,
dan membiarkan bram lepas dari tanggung jawabnya. Aku terus mengejar bram untuk
ikut membayar semua penanggunganku,
namun hasilnya nihil, aku tidak mendapatkan apapun selain sikap diam dan
penolakan.
Rasa
sakit secara fisik dan psikis yang di tambah luka hati yang dalam telah
membawaku pada titik di mana aku tidak bisa melihat apapun selain amarah. Aku
marah pada Tuhan karena telah membiarkanku sendiri dan aku juga marah pada bram
yang telah lari dari tanggung jawab. Aku melemparkan semua kekecewaanku dengan
memberikan penghakiman yang keji pada bram, aku tak kan sudi melihatnya
berbahagia dan hidup tenang atas apa yang telah di limpahkannya padaku. Aku
telah menganggapnya sebagai pengecut dan laki-laki terendah yang tak punya
perikemanusiaan.
Aku
menginginkannya terperosok pada kesulitan melebihi apa yang aku rasakan, dan
berharap akan ada perempuan lain yang akan membalaskan semua dendam dan
amarahku berlipat-lipat kali lebih besar dari yang aku alami. Aku telah
menghakimi bram dan diriku sendiri melebihi kemampuan Tuhan dalam penerimaannya
Seseorang
mengatakan padaku bahwa penghakiman adalah hak Tuhan yang mutlak. Penghakiman
yang adil hanya ada di tangan Tuhan. penghakiman manausia memiliki batas, namun
penghakiman Tuhan tanpa batas.
Di
sinilah aku mulai belajar melepaskan penghakiman pada Tuhan. Aku memasrahkan
segala sesuatunya pada Tuhan dan meminta tangan Tuhan bekerja dengan
keajaibannya untuk merubah hidupku.
Apa
yang kurasakan kemudian sungguh luarbiasa, ketika aku telah menyerahkan
penghakiman pada kuasa Tuhan, perlahan-lahan aku mulai merasakan kuasa Tuhan
bekerja atas hidupku. aku melihat bagaimana bentangan jalanku terbuka lebar.
Aku mulai bisa melihat sesuatu yang selama ini tak mampu kulihat tepat di
hadapanku.
Aku
mulai melihat potensi diriku kembali tumbuh, dan menyaksikan bagaimana Tuhan
telah membuatnya jauh lebih baik dan lebih matang dari sebelumnya. Perasaan
kasih pun mulai kembali menjalari hatiku hingga aku pun bisa kembali merasakan
empati pada orang lain di sekelilingku. Aku menemukan lingkungan baru di mana
semua orang bisa melihat jaubh ke dalam diriku dan membantuku keluar dari
kegelapan yang telah kuciptakan sendiri.
Aku
mulai bisa membuka diri dan membiarkan orang-orang yang mengasihiku masuk ke
dalamnya untuk mengulurkan tangannya dan mengajakku melihat dunia luar yang
sama sekali berbeda dari bbayanganku selama ini.
Ketika
aku melepaskan penghakiman, aku menemukan bahwa ternyata aku jauh lebih baik
taanpa penghakiman itu sendiri, aku mampu melihat diriku dengan nyata dan utuh,
aku mampu kembali meraih rasa percaya diriku dan kemampuanku untuk kembali
memulai hubungan baru dengan lingkungan di sekitarku.
Aku
pun mulai melihat bram hanya sebagai bagian kecil dari hidupku dan tidak
melihatnya lagi sebagai suatu ancaman yang menakutkan. Aku mampu mengenangnya
dengan cara yang baik tanpa mengesampingkan emosi yang memenuhinya.