Post Abortion Syndrome

PAS August 19th, 2007

POST ABORTION SYNDROME

 

(Penderitaan Mental & Emosional Pada Perempuan
Setelah Aborsi)

 

“Pengguguran berakibat menyakitkan , tanpa
memperhatikan berapa besar kepercayaan religius seorang perempuan , atau
bagaimana positif keyakinannya untuk membuat keputusan aborsi”

 

– Vincent Rue, Ph.D. - Psychologist

 

PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA PEREMPUAN POST ABORTIVE

 

v Kehilangan rasa percaya diri

v Merasa malu dan bersalah

v Merasa tidak berharga

v Bersedih berlarut-larut

v Berteriak-teriak histeris

v Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi

v Ingin melakukan bunuh diri

v Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang

v Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual

 

Pada kasus yang berat, gangguan emosional dapat menjadi
lebih parah seiring dengan

terjadinya kondisi berikut :

v Numbness ( beku secara emosi )

v Berhalusinansi mendengar atau melihat bayi

v Bermimpi buruk

v Mengalami gangguan tidur

v Tidak mampu bersosialisasi

v Percobaan bunuh diri

 

MASALAH PERILAKU YANG SERING TERJADI PASKA ABORSI

v 61% meningkatkan penggunaan alkohol

v 65% memiliki dorongan untuk bunuh diri

v 69% mengalami gangguan seksual

v 73% mengalami flash back memori ketika terjadi
aborsi

v 77% mengalami kesulitan berkomunikasi

v 81% sering menangis

 

APAKAH POST ABORTION SYNDROME SELALU TERJADI PADA
POST-ABORTIVE ?

Bila anda pernah melakukan aborsi dengan keadaan keadaan
berikut maka anda mungkin mengalami trauma yang dapat mengakibatkan terjadinya
PAS :

v Aborsi yang tidak bersih

v Pendarahan hebat

v Aborsi tanpa di beri obat penghilang rasa sakit

v Aborsi karena paksaan dari luar

v Proses aborsi yang lama

v Penanganan paska aborsi yang tidak tuntas

 

 

GANGGUAN KESEHATAN YANG MUNGKIN TERJADI PASKA ABORSI

 

Gangguan paska aborsi bisa jadi tidak muncul untuk beberapa
waktu ke depan, namun penanganan yang tidak tuntas dapat mengakibatkan resiko
berikut :

v Kesulitan hamil

v Lemah kandungan

v Keguguran

v Tumor rahim

v Rasa sakit ketika melakukan hubungan sex

v Frigid

v Masalah reproduksi lainnya…

 

 

RECOVERY PROGRAM

 

MENERIMA DAN MELEWATI PENYANGKALAN

Langkah pertama ini dapat membantu para perempuan

untuk mengakses perasaan negatif yang meliputi

pengalaman aborsi dan masa-masa setelahnya.

 

Melawan penyangkalan terhadap aborsi dan

menerima kenyataan bahwa aborsi adalah suatu

bagian dari dirinya.

 

BERDUKA ATAS KEHILANGAN BAYI YANG TELAH DI ABORSI

 

Banyak perempuan yang mengalami PAS tidak merasa

perlu berduka cita atas kehilangan bayi yang telah di

aborsi. Adalah hal yang sangat penting bagi seorang

perempuan post-abortive untuk sampai pada titik

dimana ia harus memahami bahwa ia telah mengaborsi

Seorang bayi manusia seutuhnya.

 

MEMAHAMI RASA BERSALAH DAN MENERIMA PENGAMPUNAN TUHAN

 

Bagian terpenting bagi seorang perempuan post abortive adalah
kemampuan untuk menerima sesuatu pada tingkatan emosional apa yang telah di
sadarinya pada

tingkatan intelektual/logika, bahwa pengampunan tuhan telah
komplit dan ia harus mencapai penyembuhan melalui apa yang telah di berikan
tuhan padanya.

Pengampunan baik itu pada diri sendiri ataupun pada orang
lain yang terlibat dalam membuat keputusan untuk melakukan aborsi.

 

Berdamailah dengan perasaan bersalah anda. Sadari bahwa
perasaan bersalah anda adalah suatu hal yang normal dan alamiah, namun sadari
juga bahwa

pengampunan selalu ada bagi setiap orang yang  menginginkannya melalui keyakinan anda.

 

Tuhan mencintai anda, dan karena kecintaannya pulalah Semua
dosa memiliki pengampunan .

 

Yakinlah bahwa tuhan akan memberikan pengampunan nya bagi
diri anda dan melepaskan anda dari keterpurukan emosi yang mengganggu anda
selama ini.

 

Hanya jika anda telah mampu memaafkan diri anda sendiri, maka
anda baru dapat meneruskan hidup anda dengan penuh suka cita. Karena ketika
anda memaafkan diri anda sendiri maka keterikatan emosi buruk dengan masa lalu anda
tidak dapat lagi mempengaruhi langkah anda ke depannya. Anda akan jauh merasa
lebih lega dan lebih

percaya diri untuk membuat keputusan penting dalam hidup
anda.

 

 

Post Abortion Syndrome Campaign

 

Forward email ini kepada teman anda yang membutuhkannya.  

Untuk informasi mengenai Post abortion Syndrome secara

lengkap anda dapat mengunjungi http://abortus.blogspot.com

 

Jika anda mengenal seseorang yang pernah melakukan aborsi
dan mungkin membutuhkan bantuan, anda
dapat mengirimkan email ke de.ijhem@gmail.com

 

Thank You

Inna Aryani hudaya

http://abortus.blogspot.com

 

Far away from home

Me Myself & Ina August 18th, 2007

Hari ini tepat sebulan aku meninggalkan Jogja
Gak berasa selama itu pula aku melalui masa-masa menakjubkan bersama keluargaku
Suatu hal yang sangat asing dan terasa aneh bagiku
Ya, karena aku memang tidak terbiasa dekat dengan lingkungan keluargaku
Apalagi dengan keadaanku sekarang yang jelas-jelas minus di bawah nilai norma dan keyakinan yang di pegang teguh oleh keluargaku.

Sejak kecil aku terbiasa tinggal dengan kedua orangtuaku dan seorang adik perempuanku, saudara-saudara ku yang lain sudah lama meninggalkan rumah untuk studi dan bekerja
Jadi, aku hanya mengenal mereka dari cerita kedua orangtuaku dan bertemu mereka beberapa hari selama setahun…

Ketika SMP aku pun sudah mulai meninggalkan rumah untuk menempuh studi di sebuah pesantren di Garut, Jawa Barat. Hingga akhirnya barulah ketika aku menginjak SMA akupun ke kembali ke rumah, namun pada saat itu adik perempuanku justru meninggalkan kami untuk menempuh studi di pesantren yang sama denganku. Aku, ibu dan bapakku tinggal bertiga di sebuah rumah yang lumayan tidak kecil ditemani beberapa orang pembantu. Rumah yang sangat sepi….

Aku bisa mengatakan bahwa keluarga kami adalah keluarga yang sangat kaku.
Orang luar melihat kami sebagai keluarga yang sempurna, namun aku sendiri tidak merasa demikian. Jika melihat dari nilai norma dan keyakinan yang kami anut, kami mungkin bisa menjadi contoh bagi keluarga lainnnya agar menjadi keluarga sakinah, tampak luarnya memang begitu. Semenjak kecil kami terbiasa berbicara satu sama lain dan meilai satu sama lain berdasarkan norma dan keyakinan yang kami anut. Jarang sekali kami bisa berbicara dengan bahasa cinta kasih yang seharusnya menjadi penopang keluarga. Itulah mengapa kami jarang sekali berbicara tentang perasaan kami dan lebih banyak membahas segala sesuatu yang klise. Ketika ada seseorang di antara kami bermasalah, kami terbiasa segera berkumpul untuk bermusyawarah mencari penyelesaian yang tepat. Namun jarang sekali kami menanyakan perasaan yang bersangkutan. “ apakah kamu sedih ?” atau “ apakah kamu bahagia?” atau sekedar menunjukkan empati dengan mengatakan “ aku mengerti perasaanmu.”

Ya, mungkin bagi beberapa orang hal itu hanya sebuah pertanyaan kecil yang gak terlalu penting, toh dengan melihat raut mukanya saja seharusnya kita tahu apa yang di rasakan oleh seseorang. Tapi tidak, bagiku pertanyaan kecil itu bisa menjadi berarti begitu besar bagi seseorang, karena pertanyaan atau pernyataan kecil seperti itu menunjukkan bahwa kita peduli akan perasaannya sebagai manusia dan hal itu akan sangat membantu untuk memulihkan perasaan yang terluka.

Aku mungkin paling berbeda di antara keluargaku yang lain. Walaupun aku tampak kuat dan tegar daripada yang lainnya, sebenarnya aku adalah orang yang sangat sensitif dan rapuh. Semenjak kecil aku menyadari bahwa kasih sayang dan perhatian adalah sesuatu yang sangat aku butuhkan dalam proses kehidupan. Ketika aku tidak mendapatkan apa yang aku butuhkan maka aku membangun benteng pertahanan menjadi orang yang tampak kuat dan tegar. Karena itu pulalah aku selalu menghindar dan semakin menjauh dari keluargaku. Aku tidak ingin kecewa dengan tidak mendapatkan apa yang aku butuhkan dari keluargaku.

Maka, ketika kuliah akupun nekad meninggalkan rumah. Hanya satu tujuanku, ingin jauh dari keluarga. Aku pun pergi ke Jogja.

Apa yang terjadi dalam kurun waktu 7 tahun aku di Jogja ?
1 kali menjadi mahasiswa terbaik
2 kali aku gagal dalam menempuh kuliah di perguruan tinggi swasta di Jogjakarta
5 kali aku opname di berbagai rumah sakit
3 kali mengikuti terapi dengan psikiater
aku juga mengikuti berbagai kegiatan berkesenian di Jogja, aktif menulis dan menjadi manajer band local serta mengikuti berbagai seminar dan lomba jurnalistik.
Dan puncaknya adalah 1x melakukan aborsi ….

Kurun waktu 7 tahun di jogja adalah masa-masa terbaikku dalam usaha pencarian jati diri sekaligus masa titik terendah kehidupanku karena mengalami post-abortion syndrome..masa yang di penuhi dengan gelak tawa dan diakhiri derai tangis yang membahana…

Ketika sampai pada titik dimana aku tidak sanggup lagi meneruskan kehidupanku, akhirnya aku memilih untuk pulang pada keluarga, sebuah pilihan yang menakutkan dan tidak pernah terbersit di fikiranku.

Namun akhirnya aku membuat pilihan yang membuat keluarga kaget : sebuah pengakuan post-abortion dan kembali ke keluarga tanpa mengenakan jilbab.

Sebagian membenciku karena itu tapi mereka tak punya pilihan selain menerimaku kembali dan menerima keputusanku. Aku bisa  melihat kekecewaan di mata mereka dan juga berbagai pertanyaan yang hanya terendap dalam kepala mereka.

Perjalananku di mulai sebulan yang lalu ketika aku singgah di kota bandung dan bertemu dengan kakak perempuanku. Aku tinggal bersamanya selama seminggu, dalam waktu itulah aku akhirnya mengenal siapa kakakku sebenarnya, aku mulai membuka diriku dan menyiapkan mental untuk menerima penolakan yang terburuk. Sebelum aku pergi menuju Jakarta, ia berpesan :

“ Na, kalau kamu mau menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, jangan setengah-setengah. Tunjukkan di depan keluarga dan buktikan kalo kamu bisa lebih baik. “

Itulah kata-kata yang menguatkan tekadku.

Semenjak itulah aku mengunjungi saudara-saudaraku yang lainnya dengan tampil apa adanya. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk bisa menerima penolakan dan kemungkinan terburuk lainnya.

Aku mungkin adalah ujian keimanan bagi keluargaku. Keluargaku sangat keras dan fanatic dalam beragama, terkadang mereka melihat orang yang tidak seperti mereka dengan cara yang sinis. Sekarang mereka harus menerima bahwa olok-olokan yang biasa mereka lontarkan pada orang lain terjadi pada keluarga mereka sendiri. Mungkin mereka menelan ludah mereka dalam-dalam. Kakak perempuanku dan semua perempuan di keluarga besar kami menggunakan jilbab dan busana muslim yang sangat tertutup, sekarang mereka harus menerima keadaanku yang seperti ini. Ketika aku berjalan-jalan dengan mereka dan bertemu dengan teman mereka, biasanya mereka akan menyembunyikanku. Namun kini mereka di uji untuk berani memperkenalkanku. Aku sempat tersenyum melihat tatapan mata seorang ibu yang merupakan relasi kakakku, waktu itu kami di Tamini dan kakakku memperkenalkanku sebagai adiknya. Ibu itu tampak kaget dan menatapku lama, Ya ia mungkin kaget melihat perbedaan kami, kakak ku yang tampak alim dengan jilbabnya dan aku yang tomboy dengan celana pendek dan kepala plontos. Tapi ya itulah..di sanalah aku kemudian menjadi ujian bagi keluargaku.

Kini, aku bisa merasakan bahwa mukjizat tuhan sudah mulai bekerja. Ketika aku menunjukkan siapa diriku sebenarnya barulah aku bisa melihat kepedulian besar dari saudara-saudaraku yang lain.

Aku mungkin telah berdosa besar dan harus menanggung akibat dari perbuatanku. Namun keadaanku yang sekarang  telah membuat mata hati saudara-saudara ku menjadi terbuka dan lebih tergugah perasaannya. Ketika aku menunjukkan bahwa aku lemah, mereka makin tergugah untuk memperlihatkan dan menunjukkan kasih sayang mereka kepadaku.

Walaupun sebagian masih tetap menghujat dan menolakku, namun aku takkan mundur, aku yakin mukjizat tuhan takkan berhenti sampai di sini.

Aku teramat bersyukur, bahwa ketika aku tak lagi sempurna sebagai perempuan, keluarga ku menerimaku dengan cara yang luarbiasa. Tak ada yang menghakimiku. Walaupun tak ada yang bertanya tentang perasaanku, namun aku tahu sikap diam mereka adalah empati terbesar yang dapat mereka tunjukkan kepadaku.

Namun hingga hari ini, aku belum pulang ke pelukan Ibuku.
Aku akan pulang…sebentar lagi….

TO THE ONE

Poetry and Poems August 14th, 2007

To the one who understood her task and her purpose.
To the one who looked at the road ahead, and understood that it was a
difficult journey.

To the one who did not make light of those difficulties,
but, on the contrary, made them manifest and visible.

To the one who makes the lonely feel they are not alone,
who satisfies
those who hunger and thirst for justice, who makes the
oppressor feel as bad as the oppressed.

To the one who always keeps her door open,
her ears listening, her hands working, her feet walking.

To the one who embodies the verses of another Persian poet,
Hafez, when he says: Not even seven thousand years of joy are worth seven
days of sadness.

To the one who is here tonight, may she be one with all of us,
may her example multiply, may she still have difficult days ahead,
so that she can do whatever she needs to do,
so that the next generations will not have to strive
for what has already been accomplished.

And may she walk slowly,
because her peace is the peace of change,
and chage, real change, always takes time.

(Message from Paulo Coelho to honour Shirin Ebadi at the Nobel Peace Prize
Ceremony, Oslo, December 11th 2003).