Pengampunan

PAS July 28th, 2007

aku melihat foto bram masih ada
di album telepon kakak perempuanku, tertanggal 8 juni 2005. ya, aku masih ingat
itulah terakhir kali bram dating berkunjung ke keluarga ku di tasik. sulit
bagiku melihat lagi sosok itu meskipun berupa gambar mati. rasanya sebuah
gambar mati bisa mengembalikan banyak kenangan yang pahit.

 

tapi tak apa, mungkin inilah yang
harus kuhadapi saat ini. aku harus mulai bisa belajar menghadapinya dengan
berbesar hati. tanpa ada pengampunan dari dasar hatiku tentunya tak akan mudah
bagiku untuk bisa melangkah dan melewati setiap tahapan pemulihan diriku.

 

aku harus bisa menerima bahwa
bram adalah bagian dari masa laluku dan apapun yang telah dia lakukan yang
memperburuk keadaanku saat ini takkan banyak mengubah keyataaan yang tengah kuhadapi.
aku mungkin membenci nya karena telah meninggalkanku dalam keadaan yang rentan
dan rapuh dan memaksaku harus melewati pertanggungjawaban yang berat dengan
berbekal hati yang lemah. namun kita tak pernah tahu isi hati seseorang, hanya
tuhan yang mengerti semua alasan di balik sikap bram yang menelantarkanku
begitu saja, dan hanya tuhan pula yang dapat memberikan pelajaran bagi bram,
bukan aku atau siapapun.

 

aku harus belajar untuk
melepaskan penghakiman atas diri bram ataupun atas diriku sendiri, menyerahkan
segala nya pada kuasa tuhan dan berharap tuhan lah yang akan membuka jalan bagi
pemulihan diriku.

 

aku begitu yakin, bahwa jauh di
lubuk hati bram, dia pun merasakan kesesakan yang aku rasakan selama ini.
mungkin aku jauh lebih beruntung jarena aku mampu mengkomunikasikannya dengan
orang lain dan meminta bantuan orang-orang terdekatku. tapi bram, sejauh apa
yang bisa di lakukannya ketika dia hanya meyimpannya sendiri. aku harus yakin
bahwa bram pun tau apa yang aku rasakan, dan hati kecilnya takkan mungkin lepas
dari perasaan bersalah, karena bram pun sama manusia lemah seperti aku.

tuhan yang maha kuasa lah yang
punya hak mutlak atas penghakiman dan pembenaran atas setiap sisi hati
seseorang. inilah saatnya aku berpasrah dan yakin pada kuasa tuhan, bahwa
segala penderitaan dan kepedihan yang kurasakan selama ini takkan menjadi
sia-sia, takkan ada nilai nol bagi mereka yang berjuang. mungkin tak akan ada
artinya di mata manusia, tapi tuhan tak buta dan selalu melihat setiap tindakan
manusia sekecil apapun. setelah kesulitan maka akan ada kemudahan. dan aku
yakin tuhan telah merancang sesuatu yang indah bagiku ataupun bram pada saatnya
nanti.

 

ya tuhan…jika apa yang tengah
kuhadapi dalah siksaan atas dosaku padamu. maka jangan aku saja yang kau
sayangi dengan kasih dan pengampunan. berilah kasih dan pengampunan bagi bram
jauh lebih besar daripada apa yang telah kau berikan padaku. atas dosa yang
pernah kami lakukan bersama, semestinya pula kami tunduk bersamaan di bawah
kuasamu.

 

bram, aku tidak akan menyesali
setiap cuil kepahitan yang aku alami selama ini. aku tidak akan melemparkan
penderitaanku di atas pundakmu. dan aku mohon maaf jika selama ini aku sempat
membencimu dan melemparkan amarahku padamu. atas apa yang tidak pernah
kuketahui dan mungkin takkan pernah ku tahu, aku yakin setiap dari kita memikul
beban yang sama meskipun dalam rupa yang berbeda.

 

tuhan memang mengasihiku jauh
melebihi kemampuan ku menghambakan diri padanya, aku masih juga di berikan
kepedihan hidup agar aku mampu melewatinya dan menemukan ketegaran yang
luarbiasa. inilah jalan hidup yang telah ku buat dengan tanganku sendiri, dan
tuhan telah memberiku pilihan untuk menebus dan memperbaiki semasa aku masih
punya waktu untuk menghargainya.

 

ketika aku merasa sendiri
ternyata tuhan ada di sampingku dan membukakan jalan bagi semua orang yang
menyayangiku untuk melihatku dalam keadaan yang lemah agar mereka yang
mengasihiku dapat mengulurkan tangan mereka untuk menunjukkan kasih dan
kepedulian mereka.

 

ketika aku merasa terpuruk maka
tuhan pun membawaku pada orang-orang yang sebelumnya telah melampaui jalan yang
kutempuh agar aku belajar dari kekuatan mereka dan menemukan kebenaran sejati
dalam setiap keterpurukan orang-orang di sekitarku.

tuhan telah membawaku melihat
dunia lewat matanya, bahwa setiap apa yang buruk di hadapan manusia sejatinya
tak selalu buruk di mata tuhan. bahwa apa yang tampak sempurna di mata manusia
tak selalu benar di mata tuhan.

 

Memberi ampunan pada seseorang
yang telah melukai perasaan kita tentunya bukan hal yang mudah, butuh waktu dan
pemahaman yang lama untuk sampai pada titik di mana kita melihat bahawa
pengampunan adalah salah satu cara untuk bisa berdamai dengan diri sendiri dan
menerima bagian dari diri kita yang terpisah dari kenyataan ideal yang kita
harapkan.

 

untuk sampai pada tahap ini kita
harus mampu melihat jauh ke dalam permasalahan kita dan menilhat inti perubahan
yang kita inginkan. di saat kita menyadari seberat apa masalah yang kita hadapi
akan jauh lebih mudah bagi kita untuk memperkirakan langkah penyelesaian yang
terbaik bagi pemulihan diri kita. namun pada saat yang bersamaan kita akan
menyadari bahwa tahapan pemulihan diri akan selalu terhambat ketika kita belum
bisa melepaskan amarah yang membelenggu hati dan fikiran kita. amarah dan
kebencian itu seperti ikatan yang kuat yang menutupi mata hati kita, hingga
kemanapun kita melangkah segala sesuatunya akan terlihat gelap terhalang oleh
amarah dan kebencian.

di sinilah kita akan menyadari
bahwa sudah saatnya kita melepaskan belenggu amarah yang menghalangi proses
pemulihan diri kita, sedikit demi sedikit kita menerima amrah itu sebagai
bagian emosi yang tidak bisa lepas dari manusia, namun pada saat bersamaan pula
kita mengarahkan amarah kita pada bentuk emosi yang jauh lebih terkendali. kita
tidak dapat melawan amarah, karena amarah adalah suatu bentuk emosi yang sangat
manusiawi, hanya saja kita tidak dapat membiarkan amarah menguasai diri kita.
perlahan-lahan kita rangkul amarah kita sebagai bagian diri kita dan
mengolahnya sebagai bentuk kecil kekecewaan. dan pada akhirnya kita akan
menyadari bahwa satu-satunya kunci utama yang dapat menundukkan amarah dalah
pengampunan. tidak hanya pengampunan bagi mereka yang telah melukai kita namun
juga pengampunan bagi diri kita sendiri yang telah membiarkan dilukai oleh
amarah.

jika tuhan saja maha pengampuan
maka siapakah diri kita yang begitu sulit memberikan ampunan….ampunan tuhan
takkan menjangkau diri kita selama kita masih terbelenggu oleh amarah….